Para periset dari Wake Forest University, the University of Nebraska, dan Washington University melakukan riset terhadap mahasiswa yang diminta menilai teman2nya. Didapatkan bahwa orang yang menilai teman2nya secara negatip, ternyata adalah orang2 yang mempunyai kepribadian negatip juga. Sedangkan orang yang menganggap orang lain selalu positip, memiliki personality yang baik dan disukai banyak orang. Orang positip ini memiliki tingkat kepuasan yang lebih, tidak tertekan, bahkan punya nilai akademis rata2 yang lebih baik.
Ketika kawan anda menceritakan orang lain, apa yang dikatakannya: hal yang negatip atau positip? Gossip, makian, dengki, amarah, ataukan pujian, syukur, damai, kagum, yang mengalir keluar dari mulutnya? Hal ini ternyata mengurai karakter dan jiwa orang itu sendiri, dan menjadi cermin apa yang ada didalam dirinya.
Orang2 yang selalu negatip terhadap kehidupan, biasanya tidak mudah bersosialisasi, tidak setuju terhadap apa saja, penuh kritik, dan narsis berlebihan. Dan ternyata sifat2 ini tidak mudah berubah. Riset yang sama pada orang yang sama setahun kemudian mengungkapkan kesamaan hasil, yang membuktikan orang2 tidak berubah dari watak asalnya bersama jalannya waktu.
Maka amatilah orang2 yang selalu mengatakan hal yang positip tentang orang lain, kejadian lain, pekerjaan, keadaan negeri, dan apa saja, kepada anda. Orang2 ini biasanya percaya pada orang lain, bersikap manis, mengatakan hal2 positip dengan tulus, dan memiliki emosi yang stabil. Berteman dan bersahabatlah dengan orang2 demikian, karena selain ini menularkan optimisme kepada anda, orang2 ini juga yang mempunyai kemungkinan sukses lebih besar daripada yang negatip.
Jadi perhatikan “apa yang keluar dari mulutnya”, terutama ketika dia bercerita tentang orang lain kepada anda, karena dari sana sebenarnya sudah dapat dilihat apakah dia orang yang menyenangkan atau menyebalkan. Hitung kalimat piostip, dan hitung kalimat negatip yang keluar dalam sehari, dan bandingkan mana yang lebih banyak. Kalimat netral tidak diperhitungkan. Semakin banyak positipnya, maka semakin menyenangkan anda, semakin mudah sukses, dan semakin bahagia kehidupannya.
Bagi yang memiliki kebiasaan negatip dan ingin berubah, ternyata kebiasaan dan sifat2 ini memang masih bisa dirubah. Tapi sangat tidak mudah merubahnya. Psychologist Phillippa Lally dari University College London, meminta 96 mahasiswa untuk membentuk kebiasaan, misalkan minum dua gelas air sebelum makan siang, dan mendapatkan bahwa perubahan itu cukup sulit dan baru terbentuk setelah berbulan bulan. Kelupaan sehari dua hari tidak menjadi masalah, asalkan mau meneruskannya. Jadi kebiasaan baru yang baik bisa dibentuk, dengan keyakinan dan upaya yang keras.
Mulailah dengan mengucapkan kata2 yang yang positip, memuji, menghargai, dan mensyukuri kehidupan dengan tulus. Bukan hanya tentang orang lain saja, tapi juga tentang pekerjaan, tentang kehidupan, bahkan tentang kucing tetangga yang nakal. Salam positip
Ikhlas sepanjang jalan.... Hidup adalah perjalanan, yang ditaburi mimpi, diisi keberanian, dan dinyatakan dalam tindakan
Saturday, January 11, 2014
Friday, December 27, 2013
Semua orang punya jumlah waktu yang sama
Kita semua sering tidak punya waktu untuk hal2 penting yang tidak mendesak, seperti belajar lagi, atau pergi berlibur sejenak, atau menemui nenek kita yang sakit, atau pulang kampung menemui orang tua.
Waktu adalah hal yang ajaib, kalau kita tidak mampu menguasainya, kita akan dikuasai oleh nya. Semua orang punya jumlah waktu yang sama. Apa yang kita putuskan untuk kita pilih dan lakukan, adalah keputusan kita sendiri.
Wednesday, November 6, 2013
The 80 20 Manager: Ten Ways To Become a Great Leader~Richard Koch
Setiap pebisnis pasti sudah pernah dengar tentang Pareto Principle, atau the 80 20 Principle. Bahkan merasa sudah melakukan sebagian dari idea ini. Tetapi Richard Koch mengatakan sangat sedikit orang yang dia lihat benar2 dapat hidup dengan pola 80 20. Buku ini memberikan wacana yang baik, dan membuat kita berpikir lebih panjang tentang kehidupan kita. Apakah kita sudah 80 20, bagaimana membuat perubahan supaya benar2 bisa 'super efektip' dalam kita berbisnis, bagaimana supaya bukan sekedar naik 20 persen saja bisnis kita, tapi menjadi 10 kali lebih hebat.
Pada saat puncak sukses pekerjaannya, seberapa sibuk sebenarnya Warren Buffet, Bill Gates, atau Steve Jobs? Apakah dia mengerjakan semua hal dalam kehidupan bisnisnya? Bruce Henderson, pendiri Boston Consulting Group, boss Richard Koch, katanya tidak pernah bekerja lebih dari 4 jam sehari. Begitu juga Bill Bain, dari Bain and Co, consulting firm yang didirikan oleh ex dari BCG dimana Koch bekerja. Kaya dan sukses selalu berhubungan langsung dengan seberapa efektip kita dalam bekerja.
Coba anda ingat, berapa banyak keputusan anda yang benar2 memberikan sukses pada kehidupan anda? Mungkin hanya beberapa saja, bahkan mungkin cuma satu. Lalu kalau kita tetap mengerjakan hal2 yang sama, dengan tiga kali lebih keras, apakah kita akan tiga kali lebih sukses? Lalu butuh kerja keras berapa puluh kali kalau mau sepuluh kali lebih sukses dari sekarang?
Analisa data dan riset menunjukkan bahwa dalam kehidupan kita, segalanya tidak lah seimbang antara sebab dan akibat, ada banyak hal yang tidak membawa dampak apa2 dalam sukses kita, ada beberapa hal kecil yang justru merubah nasib dan membawa sukses luar biasa pada kita. Begitu juga data dari ketidakseimbangan kesuksesan dan distribusi bisnis.
Ketidak seimbangan di hampir segala lini, bukan hanya 80 20 tapi bisa menjadi 1 80, misalkan: hanya 1.3 percent dari filem2 top menghasilkan 80 % uang box office tiket. Hanya 0.25 % dari perusahaan yang menghasilkan sales 50% dari penjualan semua barang didunia ini, dan hanya 0.05% dari akun (20.000 akun) twitter di dunia ini yang mencakup 50 percent dari pengikut di twitter.
Richard Koch adalah jawaranya konsep 80 20, ini adalah buku ke empat dari buku 80 20 beliau. Setelah The 80 20 principle, The 80 20 Individual, dan Living 80 20 way, maka The 80 20 Manager lebih memberikan kejelasan bagaimana mengaplikasikan konsep ini pada kehidupan kepemimpinan kita sebagai manager atau atasan disebuah perusahaan. Ada 10 arahan langkah untuk menjadi 80 20 manager yang sukses. Langkah2 ini ada yang jelas dan mudah, ada yang sulit dan perlu pemahaman dalam untuk dapat melaksanakannya.
Way One: The Investigating Manager. Manager yang selalu menginvestigasi dalam bisnisnya, apa saja yang 20 percent menghasilkan sukes 80 persen itu? Selalu mencari dan menganalisa: apa produk, klien, idea yang menhasilkan profit besar, lalu lebih kuat mengeksploitas kelebihan ini dalam melakukan keputusan bisnisnya. Apa "core" dari esensi bisnis kita, sumber daya apa yang paling kunci, dan bagaimana lebih memanfaatkan itu untuk mencapai sukses yang 16 kali lebih besar.
Dalam kehidupan ada "The Vital Few", hal2 kritikal yang vital, dan "The Trivial Many", hal2 kebanyakan yang tidak penting. Mencari dengan jernih apa yang penting tidak mudah, dan butuh kejernihan dalam mengamati. Kita sering terperangkap dalam jebakan kebiasaan yang tidak efektip. Keluar dari zona nyaman, amati dengan jernih dan pilih hanya yang benar2 vital saja dalam bisnis ini.
Way Two: The Superconnecting Manager. Manager dengan network yang hebat, mampu mempertajam suksesnya dengan menggunakan networknya. Kegunaan "weak link", atau network yang bukan orang dekat kita, dalam kesuksesan kita, adalah sangat tinggi. Sehingga kita harus mampu mengidentifikasikan, melebarkan, dan memanfaatkan ini dalah proses sukses kita.
Way Three: The Mentoring Manager. Manager yang mempunyai Mentor hebat, akan dengan cepat mampu menjadi jauh lebih sukses. Siapa yang menginspirasi dan mengajari anda dalam bisnis anda? Siapa yang dapat membawa anda naik secepatnya dalam tangga kemampuan dan layak menjadi mentor anda? Kemampuan kita belajar dan mengajar adalah salah satu aktifitas yang memeberikan dampak besar dalam sukses kita.
Cari, hubungi, minta tolong, dan belajar sebanyaknya. Ingat untuk memberikan sesuatu kembali padanya untuk membuat hubungan sosial menjadi dua arah dan saling menguntungkan. Menjadi mentor dan mendidik bawahan kita untuk lebih efektip juga merupakan sebuah kunci sukses seorang 80 20 manager.
Way Four: The Leverage Manager. Manager yang mampu menggunakan "pengungkit" untuk lebih memudahkan sukses. Ada 7 yang bisa dipakai sebagai pengungkit sukses kita: Perhatian dan alam bawah sadar, Keyakinan , Ide2, Keputusan, Kepercayaan, Orang lain, dan Uang. Ketujuh hal ini mampu membuat kita menghasilkan sukses lebih besar bila kita mampu memanfaakkannya dengan baik. Gunakan satu atau lebih dari 7 ini untuk mempercepat sukses kita.
Way Five: The Liberating Manager. Manager yang membebaskan dirinya, adalah sebuah pemahaman tentang kultur demokrasi dan kebebasan dalam mengatur orang kita. Pengamatan dan kontrol adalah perlu dan harus dilakukan, tetapi kesuksesan adalah ketika kultur dan budaya perusahaan kita memberikan kebebasan yang membuat setiap orang menjadi lebih produktip. Membuat bawahan kita mampu mengeluarkan seluruh kemauan dan kemampuannya untuk kesuksesan perusahaan.
Ketika Korea pecah menjadi utara dan selatan, dan berkembang hingga kini, hasilnya sangat lah berbeda. Padahal asal mulainya kedua nya sama persis, hanya perbedaan keyakinan, budaya, dan kultur saja yang membuat keduanya menjadi sangat berbeda dalam sukses nya.
Way Six: The Manager Seeking Meaning. Manager yang menemukan arti dalam hidup ini akan menjadi manager yang berbahagia dan mau bekerja sekuat tenaga walau tidak mendapatkan gajih sekalipun. Menemukan arti hidup adalah sebuah keselarasan, dimana kerja dan cinta menjadi satu. Bagaimana kita menemukan "core" atau inti kita, bagaimana menjadi sebuah individu yang unik dan benar2 "aku"?
Way Seven: The Time-Rich Manager. Manager yang kaya waktu, adalah sebuah keajaiban. Karena kebanyakan orang selalu terlalu sibuk untuk bekerja. Ketika saya mengadakan workshop '5 Day MBA' hambatan terbanyak manager adalah 'kekurangan waktu'. Sebenarnya esensi 80 20 bukan mempercepat pekerjaan kita supaya punya waktu lebih, tetapi memilih aktifitas yang mempunyai manfaat besar dan mendelegasikan atau melupakan yang lainnya. Fokus hanya pada aktifitas inti yang paling kritikal saja.
Beberapa tip menarik diberikan Richard Koch, seperti: Kerjakan satu prioritas tinggi saja sehari, tapi kerjakan sebaik mungkin, lupakan lainnya. Fokus pada hal2 kunci saja dalam perusahaan, dan kurangi jam kerja kita. Jangan terlalu banyak meeting, lupakan email yang tidak kritikal, jangan mau menerima semua telpon, lupakan semua aktifitas yang tidak memberi dampak positip tinggi buat bisnis kita, dan jangan mau menerima semua informasi yang tidak berguna.
Way Eight: The Simplifying Manager. Manager yang menyederhanakan semua hal, bukan berarti tidak paham akan semuanya, tetapi justru membuat semua hal yang kompleks menjadi sederhana dan mudah dipahami. Penyederhanaan pada produk, proses, jasa, dan kehidupan kita akan membuat kita fokus dan tidak mudah terseret arus bisnis yang tidak jelas. Produk Apple menjadi sakti justru karena kesederhanaannya, yang sebenarnya menyembunyikan kompleksitas yang luar biasa.
Way Nine: The Lazy Manager. Manager yang Malas. Jendral Prusia Manstein memberikan catatan yang menarik, dia membagi tentara menjadi empat type. Yang bodoh dan malas, ini sebaiknya dibiarkan saja, karena tidak akan merusak atau mengganggu. Kalau rajin dan pandai, bagus karena bisa cepat naik pangkat dan bekerja dengan baik. Rajin dan bodoh berbahaya, karena bisa mengerjakan hal2 yang salah karena terlalu rajin. Yang terbaik adalah Pandai dan Malas, karena mereka yang akan bisa memerintah orang dengan efektip dan menjadi pejabat yang baik.
Kemalasan bila digabungkan dengan kecerdasan akan mampu membuat kita efektip dalam mengerjarkan pekerjaan kita. Bukan berarti tidak ada yang kita kerjakan karena menganggur, tetapi memilih hanya mengerjakan yang kunci dan inti saja, dan tidak mengerjakan hal2 yang tidak punya nilai tinggi.
Way Ten: The Strategic Manager. Manager yang mampu menyusun strategi dalam berkarya, adalah yang paling efektip. Karena setiap bisnis selalu berubah, adaptasi jadi penting, dan setiap menager harus mampu menyusun strategi bisnisnya yang memeberikan dampak 80 20 yang baik. Manager yang bukan hanya ingin sedikit menjadi lebih baik, tetapi selalu berpikir bagaimana meloncat dan sukses jauh lebih besar dari sekarang.
Besok pagi, duduk dan catatlah 10 hal yang harus anda kerjakan, lalu lihatlah mana yang terpenting dan memberikan dampak terbesar dalam bisnis anda, pilih satu atau dua saja, coret lainnya. Kerjakan dengan sebaik mungkin satu atau dua hal itu saja, pada sore hari setelah kedua hal itu selesai, sisakan sejam untuk mengerjakan 8 lainnya dengan singkat. Inilah esensi sederhana dari 80 20. Aplikasikan konsep yang sama pada proses bisnis, pencarian klien, pengembangan produk, dan kehidupan anda sepenuhnya.
Buku yang mudah dijelaskan, tetapi sulit benar diterapkan, dan butuh waktu bertahun tahun untuk menjadi ahli. Saya pribadi, dan saya yakin banyak dari teman2 juga, telah menjalankan prinsip 80 20 ini dalam kehidupan bisnis kita, dan memang memberikan dampak sukses yang baik. Tetapi kita mungkin baru menjalankan sedikit saja dari inti kunci 80 20, dan masih akan mampu menjalankan lebih lagi dalam kehidupan kita untuk mencapai sukses yang berpuluh kali lebih besar.
Pada saat puncak sukses pekerjaannya, seberapa sibuk sebenarnya Warren Buffet, Bill Gates, atau Steve Jobs? Apakah dia mengerjakan semua hal dalam kehidupan bisnisnya? Bruce Henderson, pendiri Boston Consulting Group, boss Richard Koch, katanya tidak pernah bekerja lebih dari 4 jam sehari. Begitu juga Bill Bain, dari Bain and Co, consulting firm yang didirikan oleh ex dari BCG dimana Koch bekerja. Kaya dan sukses selalu berhubungan langsung dengan seberapa efektip kita dalam bekerja.
Coba anda ingat, berapa banyak keputusan anda yang benar2 memberikan sukses pada kehidupan anda? Mungkin hanya beberapa saja, bahkan mungkin cuma satu. Lalu kalau kita tetap mengerjakan hal2 yang sama, dengan tiga kali lebih keras, apakah kita akan tiga kali lebih sukses? Lalu butuh kerja keras berapa puluh kali kalau mau sepuluh kali lebih sukses dari sekarang?
Analisa data dan riset menunjukkan bahwa dalam kehidupan kita, segalanya tidak lah seimbang antara sebab dan akibat, ada banyak hal yang tidak membawa dampak apa2 dalam sukses kita, ada beberapa hal kecil yang justru merubah nasib dan membawa sukses luar biasa pada kita. Begitu juga data dari ketidakseimbangan kesuksesan dan distribusi bisnis.
Ketidak seimbangan di hampir segala lini, bukan hanya 80 20 tapi bisa menjadi 1 80, misalkan: hanya 1.3 percent dari filem2 top menghasilkan 80 % uang box office tiket. Hanya 0.25 % dari perusahaan yang menghasilkan sales 50% dari penjualan semua barang didunia ini, dan hanya 0.05% dari akun (20.000 akun) twitter di dunia ini yang mencakup 50 percent dari pengikut di twitter.
Richard Koch adalah jawaranya konsep 80 20, ini adalah buku ke empat dari buku 80 20 beliau. Setelah The 80 20 principle, The 80 20 Individual, dan Living 80 20 way, maka The 80 20 Manager lebih memberikan kejelasan bagaimana mengaplikasikan konsep ini pada kehidupan kepemimpinan kita sebagai manager atau atasan disebuah perusahaan. Ada 10 arahan langkah untuk menjadi 80 20 manager yang sukses. Langkah2 ini ada yang jelas dan mudah, ada yang sulit dan perlu pemahaman dalam untuk dapat melaksanakannya.
Way One: The Investigating Manager. Manager yang selalu menginvestigasi dalam bisnisnya, apa saja yang 20 percent menghasilkan sukes 80 persen itu? Selalu mencari dan menganalisa: apa produk, klien, idea yang menhasilkan profit besar, lalu lebih kuat mengeksploitas kelebihan ini dalam melakukan keputusan bisnisnya. Apa "core" dari esensi bisnis kita, sumber daya apa yang paling kunci, dan bagaimana lebih memanfaatkan itu untuk mencapai sukses yang 16 kali lebih besar.
Dalam kehidupan ada "The Vital Few", hal2 kritikal yang vital, dan "The Trivial Many", hal2 kebanyakan yang tidak penting. Mencari dengan jernih apa yang penting tidak mudah, dan butuh kejernihan dalam mengamati. Kita sering terperangkap dalam jebakan kebiasaan yang tidak efektip. Keluar dari zona nyaman, amati dengan jernih dan pilih hanya yang benar2 vital saja dalam bisnis ini.
Way Two: The Superconnecting Manager. Manager dengan network yang hebat, mampu mempertajam suksesnya dengan menggunakan networknya. Kegunaan "weak link", atau network yang bukan orang dekat kita, dalam kesuksesan kita, adalah sangat tinggi. Sehingga kita harus mampu mengidentifikasikan, melebarkan, dan memanfaatkan ini dalah proses sukses kita.
Way Three: The Mentoring Manager. Manager yang mempunyai Mentor hebat, akan dengan cepat mampu menjadi jauh lebih sukses. Siapa yang menginspirasi dan mengajari anda dalam bisnis anda? Siapa yang dapat membawa anda naik secepatnya dalam tangga kemampuan dan layak menjadi mentor anda? Kemampuan kita belajar dan mengajar adalah salah satu aktifitas yang memeberikan dampak besar dalam sukses kita.
Cari, hubungi, minta tolong, dan belajar sebanyaknya. Ingat untuk memberikan sesuatu kembali padanya untuk membuat hubungan sosial menjadi dua arah dan saling menguntungkan. Menjadi mentor dan mendidik bawahan kita untuk lebih efektip juga merupakan sebuah kunci sukses seorang 80 20 manager.
Way Four: The Leverage Manager. Manager yang mampu menggunakan "pengungkit" untuk lebih memudahkan sukses. Ada 7 yang bisa dipakai sebagai pengungkit sukses kita: Perhatian dan alam bawah sadar, Keyakinan , Ide2, Keputusan, Kepercayaan, Orang lain, dan Uang. Ketujuh hal ini mampu membuat kita menghasilkan sukses lebih besar bila kita mampu memanfaakkannya dengan baik. Gunakan satu atau lebih dari 7 ini untuk mempercepat sukses kita.
Way Five: The Liberating Manager. Manager yang membebaskan dirinya, adalah sebuah pemahaman tentang kultur demokrasi dan kebebasan dalam mengatur orang kita. Pengamatan dan kontrol adalah perlu dan harus dilakukan, tetapi kesuksesan adalah ketika kultur dan budaya perusahaan kita memberikan kebebasan yang membuat setiap orang menjadi lebih produktip. Membuat bawahan kita mampu mengeluarkan seluruh kemauan dan kemampuannya untuk kesuksesan perusahaan.
Ketika Korea pecah menjadi utara dan selatan, dan berkembang hingga kini, hasilnya sangat lah berbeda. Padahal asal mulainya kedua nya sama persis, hanya perbedaan keyakinan, budaya, dan kultur saja yang membuat keduanya menjadi sangat berbeda dalam sukses nya.
Way Six: The Manager Seeking Meaning. Manager yang menemukan arti dalam hidup ini akan menjadi manager yang berbahagia dan mau bekerja sekuat tenaga walau tidak mendapatkan gajih sekalipun. Menemukan arti hidup adalah sebuah keselarasan, dimana kerja dan cinta menjadi satu. Bagaimana kita menemukan "core" atau inti kita, bagaimana menjadi sebuah individu yang unik dan benar2 "aku"?
Way Seven: The Time-Rich Manager. Manager yang kaya waktu, adalah sebuah keajaiban. Karena kebanyakan orang selalu terlalu sibuk untuk bekerja. Ketika saya mengadakan workshop '5 Day MBA' hambatan terbanyak manager adalah 'kekurangan waktu'. Sebenarnya esensi 80 20 bukan mempercepat pekerjaan kita supaya punya waktu lebih, tetapi memilih aktifitas yang mempunyai manfaat besar dan mendelegasikan atau melupakan yang lainnya. Fokus hanya pada aktifitas inti yang paling kritikal saja.
Beberapa tip menarik diberikan Richard Koch, seperti: Kerjakan satu prioritas tinggi saja sehari, tapi kerjakan sebaik mungkin, lupakan lainnya. Fokus pada hal2 kunci saja dalam perusahaan, dan kurangi jam kerja kita. Jangan terlalu banyak meeting, lupakan email yang tidak kritikal, jangan mau menerima semua telpon, lupakan semua aktifitas yang tidak memberi dampak positip tinggi buat bisnis kita, dan jangan mau menerima semua informasi yang tidak berguna.
Way Eight: The Simplifying Manager. Manager yang menyederhanakan semua hal, bukan berarti tidak paham akan semuanya, tetapi justru membuat semua hal yang kompleks menjadi sederhana dan mudah dipahami. Penyederhanaan pada produk, proses, jasa, dan kehidupan kita akan membuat kita fokus dan tidak mudah terseret arus bisnis yang tidak jelas. Produk Apple menjadi sakti justru karena kesederhanaannya, yang sebenarnya menyembunyikan kompleksitas yang luar biasa.
Way Nine: The Lazy Manager. Manager yang Malas. Jendral Prusia Manstein memberikan catatan yang menarik, dia membagi tentara menjadi empat type. Yang bodoh dan malas, ini sebaiknya dibiarkan saja, karena tidak akan merusak atau mengganggu. Kalau rajin dan pandai, bagus karena bisa cepat naik pangkat dan bekerja dengan baik. Rajin dan bodoh berbahaya, karena bisa mengerjakan hal2 yang salah karena terlalu rajin. Yang terbaik adalah Pandai dan Malas, karena mereka yang akan bisa memerintah orang dengan efektip dan menjadi pejabat yang baik.
Kemalasan bila digabungkan dengan kecerdasan akan mampu membuat kita efektip dalam mengerjarkan pekerjaan kita. Bukan berarti tidak ada yang kita kerjakan karena menganggur, tetapi memilih hanya mengerjakan yang kunci dan inti saja, dan tidak mengerjakan hal2 yang tidak punya nilai tinggi.
Way Ten: The Strategic Manager. Manager yang mampu menyusun strategi dalam berkarya, adalah yang paling efektip. Karena setiap bisnis selalu berubah, adaptasi jadi penting, dan setiap menager harus mampu menyusun strategi bisnisnya yang memeberikan dampak 80 20 yang baik. Manager yang bukan hanya ingin sedikit menjadi lebih baik, tetapi selalu berpikir bagaimana meloncat dan sukses jauh lebih besar dari sekarang.
Besok pagi, duduk dan catatlah 10 hal yang harus anda kerjakan, lalu lihatlah mana yang terpenting dan memberikan dampak terbesar dalam bisnis anda, pilih satu atau dua saja, coret lainnya. Kerjakan dengan sebaik mungkin satu atau dua hal itu saja, pada sore hari setelah kedua hal itu selesai, sisakan sejam untuk mengerjakan 8 lainnya dengan singkat. Inilah esensi sederhana dari 80 20. Aplikasikan konsep yang sama pada proses bisnis, pencarian klien, pengembangan produk, dan kehidupan anda sepenuhnya.
Buku yang mudah dijelaskan, tetapi sulit benar diterapkan, dan butuh waktu bertahun tahun untuk menjadi ahli. Saya pribadi, dan saya yakin banyak dari teman2 juga, telah menjalankan prinsip 80 20 ini dalam kehidupan bisnis kita, dan memang memberikan dampak sukses yang baik. Tetapi kita mungkin baru menjalankan sedikit saja dari inti kunci 80 20, dan masih akan mampu menjalankan lebih lagi dalam kehidupan kita untuk mencapai sukses yang berpuluh kali lebih besar.
Wednesday, October 2, 2013
a journey
Dalam perjalanan kehidupan, selalu ada sepotong jalan dimana kita harus berjalan dengan membawa se-ember ketakutan, dan sebuah ransel yang penuh dengan kesepian.
Ketika memulai sebuah bisnis, sebuah proyek, sebuah jabatan baru: Kita adalah manusia penuh keyakinan, penuh optimisme. Dengan berjalannya waktu, sering kita ternyata tidak sesukses yang kita harapkan, dan mulai terasa sebuah angin dingin menerpa tengkuk kita.
Ah, apakah asumsiku benar, Ah, apakah bisa membayar semua gajih karyawan, Ah, apakah bisnis ini akan jalan ya nantinya, Ah, apakah aku salah keluar dari kerjaku yang dulu sudah mapan, ah kenapa aku terlalu berani mengambil keputusan, ah bagaimana membeli makanan untuk bayi ini besok?
Itulah bagian dari harga yang harus kita bayar, ketika kita memutuskan mengambil jalan yang tidak lumrah. Bagian dari paket keputusan kita. Se-ember ketakutan, dan sebuah ransel yang penuh dengan kesepian, akan harus kita bawa terus dalam perjalanan kita ini, mungkin sampai satu tikungan baru nanti, baru kita akan menjadi enak.
A Bucket of Fear, and a Backpack Full of Loneliness. Saya yakin, semua orang sukses, dari Steve Jobs sampai Anita Roddick sampai Beatles sampai Gandhi sampai Einstein, selalu punya masa ragu2 yang penuh ketakutan dan kesepian dalam perjalanan suksesnya. Perjalanan kehidupan bukanlah sebuah jalan tol yang lurus mulus tanpa hambatan.
Ketika anda merasa, ada begitu banyak kepahitan yang harus anda lewati, ada begitu banyak keragu raguan untuk terus, ada begitu banyak kemalasan untuk memulai lagi, ada begitu banyak kesepian yang menggigit jiwa kita, maka inilah saatnya untuk kembali menyadarkan diri menerima semua itu dan tetap menguatkan diri untuk meneruskan perjalanan kita.
Karena kita tahu ada saatnya perjalanan akan mulus tenang damai lagi pada suatu saat dimasa mendatang nanti. Saat ini, kita hanya bisa melakukan yang terbaik yang kita bisa. Salam semangat.
Ketika memulai sebuah bisnis, sebuah proyek, sebuah jabatan baru: Kita adalah manusia penuh keyakinan, penuh optimisme. Dengan berjalannya waktu, sering kita ternyata tidak sesukses yang kita harapkan, dan mulai terasa sebuah angin dingin menerpa tengkuk kita.
Ah, apakah asumsiku benar, Ah, apakah bisa membayar semua gajih karyawan, Ah, apakah bisnis ini akan jalan ya nantinya, Ah, apakah aku salah keluar dari kerjaku yang dulu sudah mapan, ah kenapa aku terlalu berani mengambil keputusan, ah bagaimana membeli makanan untuk bayi ini besok?
Itulah bagian dari harga yang harus kita bayar, ketika kita memutuskan mengambil jalan yang tidak lumrah. Bagian dari paket keputusan kita. Se-ember ketakutan, dan sebuah ransel yang penuh dengan kesepian, akan harus kita bawa terus dalam perjalanan kita ini, mungkin sampai satu tikungan baru nanti, baru kita akan menjadi enak.
A Bucket of Fear, and a Backpack Full of Loneliness. Saya yakin, semua orang sukses, dari Steve Jobs sampai Anita Roddick sampai Beatles sampai Gandhi sampai Einstein, selalu punya masa ragu2 yang penuh ketakutan dan kesepian dalam perjalanan suksesnya. Perjalanan kehidupan bukanlah sebuah jalan tol yang lurus mulus tanpa hambatan.
Ketika anda merasa, ada begitu banyak kepahitan yang harus anda lewati, ada begitu banyak keragu raguan untuk terus, ada begitu banyak kemalasan untuk memulai lagi, ada begitu banyak kesepian yang menggigit jiwa kita, maka inilah saatnya untuk kembali menyadarkan diri menerima semua itu dan tetap menguatkan diri untuk meneruskan perjalanan kita.
Karena kita tahu ada saatnya perjalanan akan mulus tenang damai lagi pada suatu saat dimasa mendatang nanti. Saat ini, kita hanya bisa melakukan yang terbaik yang kita bisa. Salam semangat.
What Really Matters?
Apa yang sebenarnya penting dalam hidup kita? Apakah kita bisa naik pesawat ulak alik ke Bulan, ataupun Mars pada suatu hari nanti, adalah hal yang penting? Ataukah punya tas Hermes Kelly yang ratusan juga itu membuat anda lebih cantik? Punya TV 60 inch, mobil mewah, semua gatget terbaru, apakah ini penting? Ataukah punya akun facebook dengan enam juta followers itu hebat?
Orang2 kaya, terkenal, ataupun "sempurna" menurut mata banyak orang, tetap mengalami depresi berkepanjangan, marah, sedih, tidak bahagia, dan bahkan bunuh diri. Ketenaran, kekayaan, jabatan, kepandaian, terbukti tidak memberikan banyak kebahagiaan.
Ketika masyarakat mulai menekan kita dengan memberikan tolok ukur "jabatan", "harta", "gelar", "kecanggihan", "Samsung S4 - iPhone 5s" sebagai metrik untuk mengukur sukses dan kebahagiaan anda, maka kita ikut terjerembab dan terperangkap dalam pusaran tanpa akhir ini.
Pelahan lahan kita kehilangan tolok ukur kita sendiri untuk mengukur sukses dan kebahagiaan kita. Kita kehilangan kerendahan hati untuk bersyukur atas segala yang telah kita dapatkan dan miliki.
Temukan apa yang penting untuk anda sendiri: Kenali diri sendiri, keluarga, kultur, budaya, diri anda sendiri, jiwa anda sendiri. Hapuskan semua imaginasi yang di ciptakan oleh iklan TV, oleh teman2 kita, atasan kita dan masyarakat yang selalu mengukur "nilai" kita terhadap "model sukses" yang mereka anggap penting.
Temukan apa yang membuat anda bahagia, apa kerja yang ingin anda lakukan walau tidak dibayar sekalipun. Ataupun, dilain sisi, apa yang selalu anda hindari dalam pekerjaan dan kehidupan anda. Apa yang sebenarnya anda inginkan? Semua kerja dan tujuan dan arah hidup punya "trade off"-nya sendiri2.
Setidaknya; Minggu, hari yang baik untuk berpikir, Sebenarnya hidup ini untuk apa, dan apa yang penting untuk saya kerjakan? Sehingga besok, Senin, kita bisa memulai kerja yang lebih punya arti buat kita sendiri
Orang2 kaya, terkenal, ataupun "sempurna" menurut mata banyak orang, tetap mengalami depresi berkepanjangan, marah, sedih, tidak bahagia, dan bahkan bunuh diri. Ketenaran, kekayaan, jabatan, kepandaian, terbukti tidak memberikan banyak kebahagiaan.
Ketika masyarakat mulai menekan kita dengan memberikan tolok ukur "jabatan", "harta", "gelar", "kecanggihan", "Samsung S4 - iPhone 5s" sebagai metrik untuk mengukur sukses dan kebahagiaan anda, maka kita ikut terjerembab dan terperangkap dalam pusaran tanpa akhir ini.
Pelahan lahan kita kehilangan tolok ukur kita sendiri untuk mengukur sukses dan kebahagiaan kita. Kita kehilangan kerendahan hati untuk bersyukur atas segala yang telah kita dapatkan dan miliki.
Temukan apa yang penting untuk anda sendiri: Kenali diri sendiri, keluarga, kultur, budaya, diri anda sendiri, jiwa anda sendiri. Hapuskan semua imaginasi yang di ciptakan oleh iklan TV, oleh teman2 kita, atasan kita dan masyarakat yang selalu mengukur "nilai" kita terhadap "model sukses" yang mereka anggap penting.
Temukan apa yang membuat anda bahagia, apa kerja yang ingin anda lakukan walau tidak dibayar sekalipun. Ataupun, dilain sisi, apa yang selalu anda hindari dalam pekerjaan dan kehidupan anda. Apa yang sebenarnya anda inginkan? Semua kerja dan tujuan dan arah hidup punya "trade off"-nya sendiri2.
Setidaknya; Minggu, hari yang baik untuk berpikir, Sebenarnya hidup ini untuk apa, dan apa yang penting untuk saya kerjakan? Sehingga besok, Senin, kita bisa memulai kerja yang lebih punya arti buat kita sendiri
Monday, September 23, 2013
Managing Oneself ~Peter Drucker
Napleon, Da Vinci, Mozard, Steve jobs, Obama, atau siapapun yang hebat, dapat mencapai kesuksesannya karena mampu mengatur dirinya. Managing Oneself adalah tulisan almarhum Peter Drucker di Harvard Business Review March 1999 dan terpilih masuk dalam “10 must-read articles of HBR”, terbitan khusus On-Point Winter 2009. Saya ringkas sebagai berikut:
** What Are My Strength? ** Apa sebenarnya kelebihan saya dibanding orang lain? Peter Drucker berpendapat kita sering sekali salah dalam menganalisa diri kita sendiri. Satu2nya cara yang benar adalah saat kita mengambil keputusan melakukan sesuatu yang besar, kita catat apa harapan hasil dari tindakan itu, dan membandingkannya dengan kejadian yang sebenarnya. Dengan demikian secara berturut turut dalam 2 atau 3 tahun, kita akan benar2 tahu dimana kelebihan kita; kekuatan kita yang sebenarnya. Peter Drucker sendiri mengatakan dia saja sering salah dalam menganalisa dirinya sendiri, dan hanya “feedback analysis” saja yang mampu menjadi bukti yang tepat.
Konsentrasikan diri anda pada kekuatan anda, lebih pertajam kelebihan anda, dan berhati hatilah dalam mengambil keputusan atau tindakan pada keputusan2 dimana anda kurang mampu. Skill set apa yang terbaik yang ada pada diri anda? Kemampuan teknis, persuasi, mengatur anak buah, mempengaruhi orang, negosiasi, networking; cocokkan kemampuan anda dengan hasil yang dicapai ketika anda melakukan hal tersebut.
**How Do I work?** Bagaimana cara saya bekerja yang paling efektip? Anda lebih mudah belajar dari membaca, mendengar, atau mencontoh orang lain melakukan sesuatu? Tiap orang berbeda dalam keadaan lingkungan yang berbeda, kita harus memaksimalkan lingkungan kita menunjang pencapaian terbaik yang cocok dengan cara kerja kita. Ada yang mudah bekerja sendiri, ada yang lebih nyaman bekerja kelompok. Ada yang mejanya kacau dan suka bekerja larut malam, ada yang harus pada jam kerja dan duduk rapi dikantor. Stress membuat sebagian orang berhenti bekerja, sementara orang lain malah lebih tertantang. Setiap orang berbeda.
**What Are My Values?** Nilai2 apa yang saya anut? Etika hanyalah sebagian dari Values. Values adalah hal2 yang saya anggap penting dalam kehidupan kita. Semua orang semua perusahaan menginginkan profit, tapi ada seribu jalan menuju profit, dan bagaimana kita melakukan pekerjaan selalu didasari oleh nilai2 yang kita anggap penting. Peter Drucker pada saat muda berhasil menjadi pialang saham sukses di London, tapi dia tidak menemukan kebahagiaan dalam pekerjaannya, dia tidak ingin menjadi orang terkaya di kuburannya. Maka dengan segala keberanian dia pindah kerja dan memulai dari awal lagi.
Samakah Nilai2 yang anda anut dengan kelompok kerja anda, samakah dengan Nilai2 yang dianut perusahaan anda? Kwalitas, service, pembelajaran tanpa habisnya, bisnis yang sukses, fokus pada klien, design, tepat waktu, produk, teknologi maju, mewah, irit, atau apa yang menjadi nilai2 penting anda; harus ada “pilihan”, tidak bisa mau semuanya. Selaraskan 3-5 value terpenting anda dengan value perusahaan anda, dan itu jadi kunci pilihan tindakan.
**Where do I Belong?** Berdasarkan kekuatan dan kelebihan kita, dan memahami cara kerja terbaik kita, serta dengan menjunjung nilai2 yang kita anut, maka sebenarnya dimanakah seharusnya saya berada? Ketepatan keempat hal diatas akan membuat kita berubah dari pekerja yang biasa menjadi perkerja yang luar biasa. Kebanyakan orang tidak jelas akan hal ini, dan terus mencari yang tercocok untuknya. Selalu pertanyakan kembali hal2 diatas, dan lihat serta sesuaikan dengan tempat kerja yang anda idamkan.
**What can I Contribute?** Apa yang dapat saya sumbangkan? Dijaman dulu, kita diharuskan mengerjakan pekerjaan kasar yang jelas hanya memperdayakan otot kita untuk menyelesaikannya. Tetapi sekarang dengan lebarnya tugas dan luasnya lingkup pekerjaan seorang profesional, maka kita mempunyai “kebebasan” untuk memilih titik fokus2 apa yang akan kita lakukan. Berikan hasil terbesar yang dapat kita berikan kepada perusahaan, masyarakat, atau pun diri kita sendiri.
Rahasia efektivitas kerja adalah pemahaman atas diri kita dan pemahaman atas orang lain yang bekerja bersama kita. Dengan memfokuskan pada kekuatan masing2 maka sukses akan lebih mudah diraih. Tentu, semua itu bukan hanya untuk dijabarkan saja, tapi benar2 dilakukan dalam tindakan2 nyata yang berkelanjutan. Salam Sukses Selalu untuk semua.
** What Are My Strength? ** Apa sebenarnya kelebihan saya dibanding orang lain? Peter Drucker berpendapat kita sering sekali salah dalam menganalisa diri kita sendiri. Satu2nya cara yang benar adalah saat kita mengambil keputusan melakukan sesuatu yang besar, kita catat apa harapan hasil dari tindakan itu, dan membandingkannya dengan kejadian yang sebenarnya. Dengan demikian secara berturut turut dalam 2 atau 3 tahun, kita akan benar2 tahu dimana kelebihan kita; kekuatan kita yang sebenarnya. Peter Drucker sendiri mengatakan dia saja sering salah dalam menganalisa dirinya sendiri, dan hanya “feedback analysis” saja yang mampu menjadi bukti yang tepat.
Konsentrasikan diri anda pada kekuatan anda, lebih pertajam kelebihan anda, dan berhati hatilah dalam mengambil keputusan atau tindakan pada keputusan2 dimana anda kurang mampu. Skill set apa yang terbaik yang ada pada diri anda? Kemampuan teknis, persuasi, mengatur anak buah, mempengaruhi orang, negosiasi, networking; cocokkan kemampuan anda dengan hasil yang dicapai ketika anda melakukan hal tersebut.
**How Do I work?** Bagaimana cara saya bekerja yang paling efektip? Anda lebih mudah belajar dari membaca, mendengar, atau mencontoh orang lain melakukan sesuatu? Tiap orang berbeda dalam keadaan lingkungan yang berbeda, kita harus memaksimalkan lingkungan kita menunjang pencapaian terbaik yang cocok dengan cara kerja kita. Ada yang mudah bekerja sendiri, ada yang lebih nyaman bekerja kelompok. Ada yang mejanya kacau dan suka bekerja larut malam, ada yang harus pada jam kerja dan duduk rapi dikantor. Stress membuat sebagian orang berhenti bekerja, sementara orang lain malah lebih tertantang. Setiap orang berbeda.
**What Are My Values?** Nilai2 apa yang saya anut? Etika hanyalah sebagian dari Values. Values adalah hal2 yang saya anggap penting dalam kehidupan kita. Semua orang semua perusahaan menginginkan profit, tapi ada seribu jalan menuju profit, dan bagaimana kita melakukan pekerjaan selalu didasari oleh nilai2 yang kita anggap penting. Peter Drucker pada saat muda berhasil menjadi pialang saham sukses di London, tapi dia tidak menemukan kebahagiaan dalam pekerjaannya, dia tidak ingin menjadi orang terkaya di kuburannya. Maka dengan segala keberanian dia pindah kerja dan memulai dari awal lagi.
Samakah Nilai2 yang anda anut dengan kelompok kerja anda, samakah dengan Nilai2 yang dianut perusahaan anda? Kwalitas, service, pembelajaran tanpa habisnya, bisnis yang sukses, fokus pada klien, design, tepat waktu, produk, teknologi maju, mewah, irit, atau apa yang menjadi nilai2 penting anda; harus ada “pilihan”, tidak bisa mau semuanya. Selaraskan 3-5 value terpenting anda dengan value perusahaan anda, dan itu jadi kunci pilihan tindakan.
**Where do I Belong?** Berdasarkan kekuatan dan kelebihan kita, dan memahami cara kerja terbaik kita, serta dengan menjunjung nilai2 yang kita anut, maka sebenarnya dimanakah seharusnya saya berada? Ketepatan keempat hal diatas akan membuat kita berubah dari pekerja yang biasa menjadi perkerja yang luar biasa. Kebanyakan orang tidak jelas akan hal ini, dan terus mencari yang tercocok untuknya. Selalu pertanyakan kembali hal2 diatas, dan lihat serta sesuaikan dengan tempat kerja yang anda idamkan.
**What can I Contribute?** Apa yang dapat saya sumbangkan? Dijaman dulu, kita diharuskan mengerjakan pekerjaan kasar yang jelas hanya memperdayakan otot kita untuk menyelesaikannya. Tetapi sekarang dengan lebarnya tugas dan luasnya lingkup pekerjaan seorang profesional, maka kita mempunyai “kebebasan” untuk memilih titik fokus2 apa yang akan kita lakukan. Berikan hasil terbesar yang dapat kita berikan kepada perusahaan, masyarakat, atau pun diri kita sendiri.
Rahasia efektivitas kerja adalah pemahaman atas diri kita dan pemahaman atas orang lain yang bekerja bersama kita. Dengan memfokuskan pada kekuatan masing2 maka sukses akan lebih mudah diraih. Tentu, semua itu bukan hanya untuk dijabarkan saja, tapi benar2 dilakukan dalam tindakan2 nyata yang berkelanjutan. Salam Sukses Selalu untuk semua.
Tuesday, September 10, 2013
Bekerja dengan cinta
Bekerja dengan cinta adalah menganggap pekerjaan sebagai “panggilan”. Pekerjaan sebagai sebuah kenikmatan. Bekerja sebagai bagian dari passion, gairah kehidupan, dan sebagai sebuah kesempatan untuk berkarya, merealisasikan jati diri. Tanpa dibayarpun mau mengerjakannya dengan sebaik baiknya, apalagi dibayar banyak. Harapannya adalah dapat mengerjakan sebaik baiknya untuk kebaikan orang banyak.
Kata Khalil Gibran, bekerja dengan cinta itu seperti menyulam kain dari benang2 yang keluar dari jantungmu, untuk membuat pakaian kekasihmu. (It is to weave the cloth with threads drawn from your heart, even as if your beloved were to wear that cloth.) Adakah kenikmatan dan cinta pada pekerjaan kita?
Dengan menginjak bumi dan menggapai langit kita tetap pada prinsip, bisnis adalah sebuah alat mencapai keuntungan (menginjak bumi), kitapun harus memiliki idealisme untuk menikmati pekerjaan kita dan menjalankan sesuai dengan nurani dan jiwa kita (menggapai langit). Selamat bekerja.
Kata Khalil Gibran, bekerja dengan cinta itu seperti menyulam kain dari benang2 yang keluar dari jantungmu, untuk membuat pakaian kekasihmu. (It is to weave the cloth with threads drawn from your heart, even as if your beloved were to wear that cloth.) Adakah kenikmatan dan cinta pada pekerjaan kita?
Dengan menginjak bumi dan menggapai langit kita tetap pada prinsip, bisnis adalah sebuah alat mencapai keuntungan (menginjak bumi), kitapun harus memiliki idealisme untuk menikmati pekerjaan kita dan menjalankan sesuai dengan nurani dan jiwa kita (menggapai langit). Selamat bekerja.
Subscribe to:
Posts (Atom)