Didalam sebuah scene filem “Hemingway and Gellhorn”, Gellhorn ditegur oleh Hemingway mengapa lama tidak menulis. Gellhorn mengatakan tidak ada inspirasi yang tepat dan telah mencoba tidak bisa juga keluar idea atau tulisan yang baik, dan bertanya pada Hemingway sebenarnya apa sih rahasianya untuk menulis yang baik itu.
Hemingway yang ketika itu mengetik dipagi hari dengan marah berteriak: “Tidak ada rahasia apa apa untuk menulis. Yang harus kau lakukan hanyalah dulu didepan mesin tik, dan ketiklah terus sampai jarimu berdarah darah.” (There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.)
Kita sering kagum akan seorang penulis, seorang pembalap sepeda motor, seorang jagoan badminton, seorang penari yang hebat, seorang pemain piano ulung, seorang penyanyi hebat, ataupun seorang pebinsis sukses. Kita selalu merasa ada rahasia dibalik keberhasilannya.
Tanyakan pada mereka apa rahasianya? Selalu hanya satu kata yang keluar: latihan. Lakukan terus menerus, gagallah berkali kali, lakukan lagi, gagal lagi, luka, berdarah darah, dan lakukan lagi. Lewat 10.000 jam latihan yang bear, akan menjadi baik, dan lakukan lagi, gagal lagi, lakukan lagi, gagal lagi, lakukan lagi.
Tentu faktor bakat, dan inspirasi, dan kesempatan, dan faktor penunjang lain sangatlah penting dan berguna. Tetapi pada akhirnya, melakukan, berlatih, mengerjakan berulang ulang, tanpa kenal lelah, dan bangkit kembali setiap kali kita jatuh, adalah kunci kita untuk menjadi sukses dan hebat. Mengulang Hemingway, "Duduklah didepan mesin ketik, dan ketiklah terus sampai jarimu berdarah darah."
Ikhlas sepanjang jalan.... Hidup adalah perjalanan, yang ditaburi mimpi, diisi keberanian, dan dinyatakan dalam tindakan
Thursday, April 10, 2014
Waktu
“Maaf saya tidak punya waktu.” adalah sebuah penolakan halus terhadap penawaran atau permintaan anda, karena tidak cukup “berharga” untuk waktu orang tersebut. Kita menjadi “pemilih” karena “permintaan” akan waktu kita yang melimpah sedangkan “persediaan” terbatas.
Waktu adalah keadilan sejati, tidak peduli anda kaya miskin, sakit sehat, gemuk kurus, sibuk nganggur, gila waras, sukses gagal, semua orang hanya memiliki 24x7, tanpa kompromi. Dan setiap orang harus belajar mendisiplinkan diri untuk menjadi "pemilih" dalam menggunakan waktunya yang terbatas ini.
Senada dengan itu kita juga di bombardir dengan begitu banyak iklan dan berita, sehingga berita yang "WOW" saja yang mampir dibenak kita dan memikat perhatian kita. Itu sebabnya semua iklan dibuat "mencengangkan" dan unik. Dan itu pula sebabnya inovasi jadi penting dalam berbinis.
Waktu adalah keadilan sejati, tidak peduli anda kaya miskin, sakit sehat, gemuk kurus, sibuk nganggur, gila waras, sukses gagal, semua orang hanya memiliki 24x7, tanpa kompromi. Dan setiap orang harus belajar mendisiplinkan diri untuk menjadi "pemilih" dalam menggunakan waktunya yang terbatas ini.
Senada dengan itu kita juga di bombardir dengan begitu banyak iklan dan berita, sehingga berita yang "WOW" saja yang mampir dibenak kita dan memikat perhatian kita. Itu sebabnya semua iklan dibuat "mencengangkan" dan unik. Dan itu pula sebabnya inovasi jadi penting dalam berbinis.
Bekerja itu sebenarnya untuk diri kita sendiri.
Dalam sebuah seminar seorang peserta bertanya: “Pak, sebenarnya buat apa saya bekerja extra keras, sedangkan teman2 lain yang malas itu gajihnya toh sama saja.” Jawab saya, “ Karena sebenarnya anda bekerja itu ujungnya adalah untuk diri anda sendiri.”
Banyak sekali orang malas bekerja, karena imbalan yang kurang, karena toh gajihnya sama saja. Tidak ada penghargaan. Kalau salah dimahari ditegur tetapi kalau sukses tidak ada apa2, bahkan sering kerjanya diakui oleh teman atau atasannya.
Coba bayangkan dua skenario: Satu. Kalau anda bekerja asal2an, makan gajih buta, atau seperti sejawat anda yang malas, mungkinkah anda akan naik pangkat dengan cepat dan dapat banyak penghargaan? Dua. Kalau anda bekerja extra keras walau gajihnya sama. Maka ada 2 kemungkinan, anda naik pangkat naik gajih, atau ada perusahaan lain yang akan menaikpangkatkan anda dan menaik gajihkan anda.
Kerja ini sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri. Sementara ini memang ini menghasilkan keuntungan untuk perusahaan kita, kalau perusahaan tidak menghargai kita. Tapi pada akhirnya, yang menjadi ahli, yang berkompetensi, yang akan sukses, anda juga akhirnya.
Kalau toh waktu yang anda pakai di perusahaan adalah sama, mengapa tidak anda pakai dengan melakukan yang sebaik baiknya yang anda bisa. Berapapun gajih anda, betapapun tidak adilnya atasan anda, bagaimanapun cuweknya perusahaan anda terhadap anda.
Suatu saat, akan datang waktunya, keajaiban muncul, rejeki mengalir, dan membawa anda pada kelayakan anda yang memang berhak anda nikmati, karena anda telah bekerja yang sebaik baiknya yang anda bisa.
Banyak sekali orang malas bekerja, karena imbalan yang kurang, karena toh gajihnya sama saja. Tidak ada penghargaan. Kalau salah dimahari ditegur tetapi kalau sukses tidak ada apa2, bahkan sering kerjanya diakui oleh teman atau atasannya.
Coba bayangkan dua skenario: Satu. Kalau anda bekerja asal2an, makan gajih buta, atau seperti sejawat anda yang malas, mungkinkah anda akan naik pangkat dengan cepat dan dapat banyak penghargaan? Dua. Kalau anda bekerja extra keras walau gajihnya sama. Maka ada 2 kemungkinan, anda naik pangkat naik gajih, atau ada perusahaan lain yang akan menaikpangkatkan anda dan menaik gajihkan anda.
Kerja ini sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri. Sementara ini memang ini menghasilkan keuntungan untuk perusahaan kita, kalau perusahaan tidak menghargai kita. Tapi pada akhirnya, yang menjadi ahli, yang berkompetensi, yang akan sukses, anda juga akhirnya.
Kalau toh waktu yang anda pakai di perusahaan adalah sama, mengapa tidak anda pakai dengan melakukan yang sebaik baiknya yang anda bisa. Berapapun gajih anda, betapapun tidak adilnya atasan anda, bagaimanapun cuweknya perusahaan anda terhadap anda.
Suatu saat, akan datang waktunya, keajaiban muncul, rejeki mengalir, dan membawa anda pada kelayakan anda yang memang berhak anda nikmati, karena anda telah bekerja yang sebaik baiknya yang anda bisa.
Perubahan/Pergeseran Jaman
Kemarin ketika sedang menikmati makan disebuah resto saya melihat sepasang suami istri yang cantik dan tampan, tapi (maaf) anaknya "jelek" sekali.
Ada teman yang bilang, dijaman akan datang, hanya ada 2 type wanita, yang cantik, dan yang enggan operasi plastik. Karena yang kaya semua operasi plastik, yang miskin juga, karena operasi sudah semakin murah, dan bagus. Tinggal yang enggan saja. Tetapi dijaman yang lebih depan lagi, semua akan operasi plastik.
Di Korea semua wanita sudah menganggap operasi plastik sebagai sebuah hal yang lumrah, umum, dan dipahami dan di setujui masyarakat. Ibu atau nenek sang anak sering menghadiahkan "operasi plastik" sebagai hadiah sweet seventeen nya.
Dijaman dulu, ada orang yang menganggap memakai make up itu memakai topeng dan palsu, yang benar wanita harus tanpa make up. Sekarang semua orang menganggap make up adalah kewajaran.
Bahkan dijaman lebih dulu lagi, hanya pelacur dan aktor yang berlipstik. Memakai lipstik didepan umum adalah sebuah larangan. Sampai di tahun 1700 an di Inggris wanita yang memakai lipstik sebelum menikah dianggap taboo dan bisa dibatalkan perkawinannya. Baru ditahun 1884 lah lipstik diproduksi dan dijual.
Mungkin suatu saat kita akan melihat balik jaman ini yang baru mulai menerima orang2 yang operasi plastik, sebagai sesuatu yang lucu dan sangat kolot kuno bodoh, seperti kita sekarang menganalisa tentang jaman tanpa lipstik itu.
Mungkin dijaman baru nanti, umur manusia sudah bisa 150 tahun, operasi plastik seperti orang make up, robot jadi pelayan, perjalanan luar angkasa jadi pilihan tour akhir tahun, dan manusia akan tertawa melihat jaman 2014 ini yang serba kolot, bodoh, dan tidak masuk akal. Otak dan cara berpikir kita yang berubah, karena jaman berubah. Selamat menikmati perubahan.
Ada teman yang bilang, dijaman akan datang, hanya ada 2 type wanita, yang cantik, dan yang enggan operasi plastik. Karena yang kaya semua operasi plastik, yang miskin juga, karena operasi sudah semakin murah, dan bagus. Tinggal yang enggan saja. Tetapi dijaman yang lebih depan lagi, semua akan operasi plastik.
Di Korea semua wanita sudah menganggap operasi plastik sebagai sebuah hal yang lumrah, umum, dan dipahami dan di setujui masyarakat. Ibu atau nenek sang anak sering menghadiahkan "operasi plastik" sebagai hadiah sweet seventeen nya.
Dijaman dulu, ada orang yang menganggap memakai make up itu memakai topeng dan palsu, yang benar wanita harus tanpa make up. Sekarang semua orang menganggap make up adalah kewajaran.
Bahkan dijaman lebih dulu lagi, hanya pelacur dan aktor yang berlipstik. Memakai lipstik didepan umum adalah sebuah larangan. Sampai di tahun 1700 an di Inggris wanita yang memakai lipstik sebelum menikah dianggap taboo dan bisa dibatalkan perkawinannya. Baru ditahun 1884 lah lipstik diproduksi dan dijual.
Mungkin suatu saat kita akan melihat balik jaman ini yang baru mulai menerima orang2 yang operasi plastik, sebagai sesuatu yang lucu dan sangat kolot kuno bodoh, seperti kita sekarang menganalisa tentang jaman tanpa lipstik itu.
Mungkin dijaman baru nanti, umur manusia sudah bisa 150 tahun, operasi plastik seperti orang make up, robot jadi pelayan, perjalanan luar angkasa jadi pilihan tour akhir tahun, dan manusia akan tertawa melihat jaman 2014 ini yang serba kolot, bodoh, dan tidak masuk akal. Otak dan cara berpikir kita yang berubah, karena jaman berubah. Selamat menikmati perubahan.
Apakah kepemimpinan Anda menghasilkan produktivitas yang optimal?
Produktivitas bukan dihasilkan dari jumlah jam kerja, atau seberapa keras kita meneyelesaikan tugas – tugas kita semua.
Produktivitas dihasilkan dari kemampuan pemimpin memfokuskan energi pada kerja yang benar – benar kritikal dan memberikan hasil maksimum dengan upaya minimal. Produktivitas dihasilkan dari penyerhanaan kebiasaan keseharian kita menjadi sebuah kekuatan yang hebat.
Materi Seminar ini diambil dari riset – riset mutakhir yang telah terbukti nyata, untuk membuat para Eksekutif, Supervisor, Manager dan Pemilik Bisnis menjadi lebih produktif dalam memimpin. Memberikan metode untuk memperhebat kinerjanya dalam mengatur diri sendiri, orang lain, dan terget hasil kerja yang paling optimal.
Produktivitas dihasilkan dari kemampuan pemimpin memfokuskan energi pada kerja yang benar – benar kritikal dan memberikan hasil maksimum dengan upaya minimal. Produktivitas dihasilkan dari penyerhanaan kebiasaan keseharian kita menjadi sebuah kekuatan yang hebat.
Materi Seminar ini diambil dari riset – riset mutakhir yang telah terbukti nyata, untuk membuat para Eksekutif, Supervisor, Manager dan Pemilik Bisnis menjadi lebih produktif dalam memimpin. Memberikan metode untuk memperhebat kinerjanya dalam mengatur diri sendiri, orang lain, dan terget hasil kerja yang paling optimal.
Work, Career, and Calling --- Kerja, Karier, atau Panggilan.
Apapun yang anda lakukan dalam kegiatan sehari hari, yang biasa kita sebut dengan kerja, ada 3 tipe orientasi yang berbeda yang dapat anda sadari.
Job: Kegiatan sehari hari sebagai “kerja”. Kerja, motivasinya adalah uang, baik berupa gajih, bonus, atau keuntungan bisnis. Bekerja dianggap sebagi tugas dan beban, yang diharapkan adalah selesainya tugas itu. Yang ditunggu adalah hari gajihan dan libur akhir pekan. Ini membahayakan diri menjadikan kita sebagai robot yang produktip, tanpa arti kehidupan, tanpa kenikmatan. Tujuan utama penyelesaian tugas. Menderita dalam perjalanan tidak apa2 asalkan diujungnya ada uang. Uang motivasi utama.
Career: Ada yang melihat kegiatan sehari hari sebagai “karier”. Hidup sebagai sebuah lomba untuk secepatnya naik pangkat. Mendapatkan jabatan yang lebih baik, entah diperusahaan ini atau perusahaan lain yang bersedia membajak anda. Yang diinginkan adalah harga diri, hormat dari kolega dan anak buah. Yang ditunggu naik pangkat, naik jabatan, naik tunjangan. Kapan menjadi manager, direktur atau komisaris. Mencari ujung kebahagiaan dalam karier, kerja keras untuk itu, dan setelah tiba disana, akan ada upaya pencapaian baru, sebuah gunung baru untuk ditaklukkan.
Calling: Kegiatan sebagai “panggilan”. Disini kegiatan dianggap sebagai kenikmatan. Bekerja sebagai bagian dari passion, gairah kehidupan, dan sebagai sebuah kesempatan untuk berkarya, merealisasikan jati diri. Tanpa dibayarpun anda mau mengerjakannya dengan sebaik baiknya. Harapannya adalah dapat mengerjakan sebaik baiknya untuk kebaikan umat manusia. Apa yang diharapkan bila pekerjaan itu telah selesai? Ya pekerjaan baru lagi sebagai tantangan dan kenikmatan baru.
Tentu tidak semua kegiatan sehari hari dapat dikelompokkan secara eksklusif sebagai salah satu dari 3 hal diatas, karena bisa saja merupakan gabungan dari 2 atau ke 3 konsep diatas. Tapi tipe apa yang paling dominan dalam anda melihat kegiatan kerja anda?
Kata Khalil Gibran, bekerja dengan cinta itu seperti menyulam kain dari benang2 yang keluar dari jantungmu, untuk membuat pakaian kekasihmu. (It is to weave the cloth with threads drawn from your heart, even as if your beloved were to wear that cloth.) Adakah kenikmatan dan cinta pada pekerjaan kita?
Dengan menginjak bumi dan menggapai langit kita tetap pada prinsip bisnis adalah sebuah alat mencapai keuntungan (menginjak bumi), kitapun harus memiliki idealisme untuk menikmati pekerjaan kita dan menjalankan sesuai dengan nurani dan jiwa kita (menggapai langit).
Ada sebuah test sederhana yang dapat anda coba pikirkan: Bayangkan, bilamana anda mendapat hadiah undian uang sebesar satu milliar Rupiah, apakah anda masih akan mau mengerjakan pekerjaan anda seperti yang sekarang anda lakukan ataukah anda akan pindah kerja? Bila jawabnya anda tetap mau, maka berbahagialah anda, karena pekerjaan anda sekarang (sebagian atau seluruhnya) adalah panggilan hidup anda. Salam sukses selalu.
Job: Kegiatan sehari hari sebagai “kerja”. Kerja, motivasinya adalah uang, baik berupa gajih, bonus, atau keuntungan bisnis. Bekerja dianggap sebagi tugas dan beban, yang diharapkan adalah selesainya tugas itu. Yang ditunggu adalah hari gajihan dan libur akhir pekan. Ini membahayakan diri menjadikan kita sebagai robot yang produktip, tanpa arti kehidupan, tanpa kenikmatan. Tujuan utama penyelesaian tugas. Menderita dalam perjalanan tidak apa2 asalkan diujungnya ada uang. Uang motivasi utama.
Career: Ada yang melihat kegiatan sehari hari sebagai “karier”. Hidup sebagai sebuah lomba untuk secepatnya naik pangkat. Mendapatkan jabatan yang lebih baik, entah diperusahaan ini atau perusahaan lain yang bersedia membajak anda. Yang diinginkan adalah harga diri, hormat dari kolega dan anak buah. Yang ditunggu naik pangkat, naik jabatan, naik tunjangan. Kapan menjadi manager, direktur atau komisaris. Mencari ujung kebahagiaan dalam karier, kerja keras untuk itu, dan setelah tiba disana, akan ada upaya pencapaian baru, sebuah gunung baru untuk ditaklukkan.
Calling: Kegiatan sebagai “panggilan”. Disini kegiatan dianggap sebagai kenikmatan. Bekerja sebagai bagian dari passion, gairah kehidupan, dan sebagai sebuah kesempatan untuk berkarya, merealisasikan jati diri. Tanpa dibayarpun anda mau mengerjakannya dengan sebaik baiknya. Harapannya adalah dapat mengerjakan sebaik baiknya untuk kebaikan umat manusia. Apa yang diharapkan bila pekerjaan itu telah selesai? Ya pekerjaan baru lagi sebagai tantangan dan kenikmatan baru.
Tentu tidak semua kegiatan sehari hari dapat dikelompokkan secara eksklusif sebagai salah satu dari 3 hal diatas, karena bisa saja merupakan gabungan dari 2 atau ke 3 konsep diatas. Tapi tipe apa yang paling dominan dalam anda melihat kegiatan kerja anda?
Kata Khalil Gibran, bekerja dengan cinta itu seperti menyulam kain dari benang2 yang keluar dari jantungmu, untuk membuat pakaian kekasihmu. (It is to weave the cloth with threads drawn from your heart, even as if your beloved were to wear that cloth.) Adakah kenikmatan dan cinta pada pekerjaan kita?
Dengan menginjak bumi dan menggapai langit kita tetap pada prinsip bisnis adalah sebuah alat mencapai keuntungan (menginjak bumi), kitapun harus memiliki idealisme untuk menikmati pekerjaan kita dan menjalankan sesuai dengan nurani dan jiwa kita (menggapai langit).
Ada sebuah test sederhana yang dapat anda coba pikirkan: Bayangkan, bilamana anda mendapat hadiah undian uang sebesar satu milliar Rupiah, apakah anda masih akan mau mengerjakan pekerjaan anda seperti yang sekarang anda lakukan ataukah anda akan pindah kerja? Bila jawabnya anda tetap mau, maka berbahagialah anda, karena pekerjaan anda sekarang (sebagian atau seluruhnya) adalah panggilan hidup anda. Salam sukses selalu.
Hidup ini hanya sekedar mampir minum.
Pada suatu hari yang sudah lama sekali, saya menyempatkan diri mendatangi Museum Affandi. Lukisan2 hebat, sisa2 perjalanan kehidupan seorang artis besar dan kenikmatan menikmati beberapa karya besar beliau. Yang masih teringat sekarang adalah makam beliau didepan. Yang mengingatkan saya bahwa: Perjalanan kehidupan ini, betapapun hebatnya, akan berakhir pada 2x3 meter saja.
Orang jawa bilang “Urip iki mung mampir ngombe”, hidup ini hanya sekedar mampir minum saja, spruput, menenggak secangkir kopi enak, dan kita lewat sudah. Jadi,mengapa kita begitu “serius” melihat kehidupan ini? Mungkin karena sejak kecil kita di mimpikan untuk menjadi manusia kaya, sukses, hebat, terkenal. Mungkin karena masyarakat mengukur segalanya dengan tolok ukur sukses. Sehingga pengejaran kehidupan tidak pernah habis habisnya.
Ketika kita dikejar oleh jadwal, target, dan super kesibukan yang tak akan pernah habis, kita terhimpit oleh begitu banyak kewajiban dan tugas dan pengejaran mimpi yang tak akan pernah ada habisnya. Mungkin dalam kesibukan seperti itulah perlu ada sebuah jeda, sebuah pemberhentian sejenak, sebelum kita berlari lagi berjuang berperang memenangkan kehidupan ini. Selamat menikmati jeda.
Orang jawa bilang “Urip iki mung mampir ngombe”, hidup ini hanya sekedar mampir minum saja, spruput, menenggak secangkir kopi enak, dan kita lewat sudah. Jadi,mengapa kita begitu “serius” melihat kehidupan ini? Mungkin karena sejak kecil kita di mimpikan untuk menjadi manusia kaya, sukses, hebat, terkenal. Mungkin karena masyarakat mengukur segalanya dengan tolok ukur sukses. Sehingga pengejaran kehidupan tidak pernah habis habisnya.
Ketika kita dikejar oleh jadwal, target, dan super kesibukan yang tak akan pernah habis, kita terhimpit oleh begitu banyak kewajiban dan tugas dan pengejaran mimpi yang tak akan pernah ada habisnya. Mungkin dalam kesibukan seperti itulah perlu ada sebuah jeda, sebuah pemberhentian sejenak, sebelum kita berlari lagi berjuang berperang memenangkan kehidupan ini. Selamat menikmati jeda.
Subscribe to:
Posts (Atom)