Ikhlas sepanjang jalan.... Hidup adalah perjalanan, yang ditaburi mimpi, diisi keberanian, dan dinyatakan dalam tindakan
Saturday, June 20, 2009
Tim Sukses Capres yang Membuat Macet
Jika kita telusuri jalan mulai dari jalan teuku umar menuju masjid Sunda Kelapa tersebut, maka pertama kali ditemukan rumah capres nomor satu yang beberapa meter sebelum tempat tinggal mantan presiden dan juga anak presiden ini, setengah jalannya sudah di taruh oleh segitiga pembatas jalan, pas didepan rumahnya terpasang spanduk segi empat besar dengan gambar sang capres berbentuk lukisan. Sekitar tiga ratus meter setelah melewati capres nomor satu akan ketemu tempat basis tim sukses dari capres nomor dua, beberapa spanduk yang memanjang juga terpasang pada pagar rumahnya, spanduk dengan gambar photo capres dan cawapresnya dengan tulisan slogannya. Setelah melewati capres nomor dua akan ketemu rumah dari capres nomor tiga,tapi tidak ada spanduk, mungkin karena tempat ini merupakan rumah dinas sebagai wapres.
Beberapa minggu ini pada hari-hari kerja, jalan tersebut selalu macet dikarenakan setengah jalan yang ada dijadikan sebagai tempat parkir dari tamu atau tim sukses dari ketiga capres tersebut. mobil-mobil parkir mayoritas mobil mewah, jalan trotoar yang merupakan jalan umum untuk pejalan kaki, juga menjadi tempat parkir untuk pengendara motor, padahal sebelumnya jalan ini merupakan jalan yang nyaman, lancar, dan tidak terlalu ramai untuk dilalui.
Pada saat kemacetan akhirnya terbersit doa semoga dengan menjadi macetnya jalan tersebut capres yang selalu mengatakan "Pro" rakyat akan mengembalikan jalan tersebut untuk rakyat bukan untuk tempat parkir, sehingga rakyat bisa me-"Lanjutkan" perjalanan dengan lancar, kalo lancar pastinya akan sampai ditujuan dengan "Lebih cepat Lebih baik" dong…….
Wednesday, June 17, 2009
Melihat lebih jauh
Kalo lihat nama penulisnya ini menggunakan ejaan lama sepertinya bapak ini senior,karna kebetulan sy pernah punya pimipinan namanya Agus Tjahjono yang sekarang sdh pensiun.
Mohon Maaf dan Mohon Izin pa Herry Tjahjono untuk tulisannya saya masukan dalam taman bacaan saya, Salam Hormat saya buat Bapak dan keluarga.
Melihat lebih jauh
oleh: Herry Tjahjono
Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.
Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.
Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.
Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga.
Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak.
Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great.
Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job!
Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim.
Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing.
Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin.
Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.
Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist & President The XO Way, Jakarta
Monday, May 25, 2009
TO GIVE OR TO GET
Seorang pebisnis muda datang mengadukan masalahnya kepada sahabat saya yang berprofesi sebagai konsultan spiritual bisnis. Pebisnis itu membuka masalahannya dengan mengatakan, "Pak saya memiliki adik yang sangat durhaka. Ketika kuliah saya yang membiayai.
Ketika dia menikah saya yang menikahkan dan menanggung semua biayanya. Sekarang berbekal satu kwitansi atas namanya, dia akan menggugat saya ke pengadilan. Dalam gugatannya ia mengatakan rumah yang saya tempati adalah milik adik saya." Pebisnis muda itu diam sejenak sambil menarik napas panjang. Kemudian dia meneruskan ceritanya, "Padahal rumah itu saya beli dengan tetesan keringat saya.
Saya nggak habis pikir, mengapa dia tega melakukan ini. Saya minta petunjuk dari Bapak bagaimana menundukkan adik saya.
Saya ingin agar adik saya sadar dan tidak usah membawa permasalahan itu ke pengadilan. Saya malu dengan banyak orang.
"Kemudian konsultan bertanya, "Dari mana uang yang kamu gunakan untuk membangun rumahmu?"
Orang itu menjawab, "Dari hasil jerih payah usaha saya. Saya pernah punya usaha pom bensin tapi sekarang sudah bangkrut.
"Terus darimana modal usaha pom bensinmu? desak sang konsultan. Dia terdiam. Setelah menarik nafas panjang, dia berkata , "Modal usaha pom bensin saya peroleh dari hasil penjualan tanah milik ibu saya.Saya jual tanah itu tanpa izin ibu saya. Ibu saya kecewa, tak lama setelah kejadian itu ibu saya dipanggil Yang Maha Kuasa.
""Itulah sebab musabab problem anda. Memulai usaha dengan uang yang tidak bersih bahkan dengan cara menyakiti ibu kandung anda. Ironisnya, anda belum sempat meminta maaf kepada ibu anda dan dia sudah meninggal dunia," jawab sang konsultan."
Terus bagaimana saya selanjutnya?" kata orang itu. Konsultan energik itu menjawab, "Ikhlaskan rumah itu buat adik anda.Kehidupan anda tidak akan berkah dengan rumah yang merupakan buah dari menyakiti ibu anda."Butiran jernih mengalir di pipi orang itu.
Dengan nada tersengal dia berkata, "Lalu dimana keluarga saya harus berteduh?
Sang konsultan menjawab, "Allah , Tuhan Penguasa Alam Maha Kaya, pasti ada jalan yang akan Dia berikan."
Sesampainya di rumah sang kakak memanggil adiknya, "Adikku daripada kita bertengkar di pengadilan dan hubungan persaudaraan kita rusak hanya karena rumah ini, aku serahkan rumah ini untukmu.Aku ikhlas. Rumah ini sebenarnya milik ibu, bukan milik saya. Mulai hari ini, rumah ibu ini aku serahkan sepenuhnya untukmu.
"Sang adik berdiri dan kemudian memeluk sang kakak sambil berkata, "Kakakku, rumah ini adalah rumahmu maka ambilah.Saya tidak akan meneruskan di pengadilan. Tinggalah dengan damai di rumah ini bersama istri dan anak-anak kakak.Saya bangga menjadi adikmu. Saya tak ingin kehilangan engkau kakakku... "
Keduanya berpelukan dengan linangan air mata di masing-masing pipinya.
Kisah nyata di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa ketika kita berpikir apa yang akan saya dapatkan (to GET) maka yang kita peroleh adalahkegelisahan dan permusuhan.
Sebaliknya ketika kita berpikir apa yang bisa saya berikan ( to GIVE ) maka yang kita peroleh kedamaian, rasa hormat, rasa cinta dan persaudaraan. Tatkala kita berpikir to GET pada hakekatnya kita masih TERJAJAH Terjajah oleh harta, terjajah oleh jabatan, terjajah oleh kepentingan dan terjajah oleh gengsi.
Orang-orang yang merdeka adalah orang yang di dalam dirinya tertanam kuat sikap to GIVE Bila ia memiliki harta, ilmu dan karunia lainnya ia selalu berpikir kepada siapa lagi saya harus berbagi... berbagi...dan berbagi.
Negeri ini akan terus tumbuh, berkembang, maju dengan diselimuti kedamaian, rasa cinta, persaudaraan, dan kemulian bila sebagian besardiantara kita mengembangkan sikap to GIVE ketimbang to GET Kita semua harus selalu berpikir, apa yang sudah saya berikan buat anak, mitra kerja, perusahaan, pasangan hidup, saudara, orang tua, bangsa dan Sang Maha Pencipta? Pertanyaan itu harus selalu tertanam kuat dalam setiap aktivitas kita sehari-hari.
Jangan kedepankan to GET dalam sikap keseharian kita. Pada saat sebagian besar orang memiliki sikap to GIVE kita sudah boleh mengatakan bahwa kita memang sudah MERDEKA.
Dikutip dari milis tetangga sebelah
Wednesday, May 20, 2009
Pengamen Jalanan di Jakarta
Diblok M Jakarta Selatan, tempat mangkal bis Damri untuk tujuan Bandara Soekarno- Hatta, biasanya ada pengamen yang masuk sekitar 15 menit lagi berangkat / bis tersebut sudah agak banyak penumpangnya, pengamen untuk menghibur penumpang sambil menunggu bis berangkat.
Kebetulan pengamen ini mempunyai layanan yang mempunyai nilai tambah, pengamennya berdua, satu yang pemain gitar, satu lagi sebagai vokalisnya, umurnya antara 20-30 tahun, gayanya seperti roker dengan celana jeans belel dan kaos oblongnya serta sepatu kets yang kurang terawat.
Pengamen ini siap menyanyikan lagu apa saja sesuai dengan permintaan penumpang. Katanya sich dia hafal sampai ribuan lagu, kebetulan saya yang duduk dibangku paling depan pas belakang sopir, jadi saya orang pertama ditunjuk untuk menyebutkan lagu apa aja yang saya mau. Saya yang tadinya tidak terlalu peduli karna saya sedang baca buku, jadi sempat kaget diminta untuk menyebutkan lagu yang saya mau, dalam benak saya kalau saya kasih lagu yang bukan jenis pop saya khawatir dia tidak bisa & khawatir tidak familiar dikuping penumpang lainnya, jadi saya sebutkan lagu yang abadi yaitu lagu loius amstrong yaitu what a wonderful world.
Inilah pengamen yang jeli melihat peluang dengan segmen kalangan menengah, dia tahu di bis damri bandara mayoritas orang menengah yang tergolong mampu, dengan layanan tambahan tentunya penumpang akan lebih terhibur sehingga akan memberikan tips lebih, diatas rata-rata penumpang bis kota biasa.
diperjalanan dari Blok M menuju bandara akhirnya saya mencoba mengelompokan Pengamen Jakarta menjadi beberapa kelompok:
Pengamen Lampu Merah
Pengamen dilampu merah adalah pengamen yang paling mudah, cukup tahu satu lagu meskipun tidak hafal tidak masalah, karena lama ngamennya dibatasi oleh lamanya lampu merah menyala, jadi bisa kita perkirakan dengan asumsi jika nyalanya lampu merah 100 detik, (spt lampu merah di Jl. rasuna sahid) maka dia hanya perlu 10 menit untuk 1 mobil, karena jika lebih dari itu dia hanya mendapatkan dibawah 10 mobil disetiap lampu merah, jadi dalam 10 detik pengamen ini tidak perlu hafal satu lagu, karna 10 detik dalam 1 lagu paling hanya beberapa baris lirik aja.
Pengamen ini bisa dibilang pengamen nekat, sudah tahu pastinya didalam mobil sudah ada radio-tape dan sudah banyak tv mobil, dengan peredam suara yang bagus sehingga tidak terdengar dengan baik jika ada yang ngamen. Tapi pengamen tetap saja menyanyi, pengamen ini bisa dianggap sama dengan pengemis hanya saja pengamen masih perlu modal suara dan alat musik.
Pengamen Rumahan
Di Jakarta sekarang ini bisa dibilang sudah jarang pengamen rumahan, mungkin karena jaman sekarang pada siang hari yang tinggal dirumah biasanya hanya PRT (pembantu rumah tangga) yang paling-paling hanya memberikan kata “maaf aja mas….,yang punya rumah lagi engak ada dirumah….”
Perumahan dijakarta sekarang lebih banyak berbentuk rumah komplek, yang dari pintu pagar ke pintu masuk rumah agak jauh, maka pengamen harus mengamen dengan suara yang agak kencang agar suaranya itu bisa didengar oleh pemilik rumah yang berada didalam, padahal yang didalam rumah pun meskipun dengar, kadang pura2 ngk dengar, jadi dibiarkan aja sipengamen menyanyi terus sampai pergi sendiri. Sehingga ngamen di rumahan sudah dianggap tidak mempunyai prospek bagus.
Pengamen Bis Kota
Pengamen bis kota gabungan dari pengamen rumahan dan pengamen lampu merah, namun kelompok ini harus hafal minimal satu lagu, karena tipsnya didapat setelah selesai lagunya, meskipun ada yg nekat nyanyinya cuma setengah-setengah tetapi yang penting dia bisa menjadi pusat perhatian dengan dibumbui hal2 yang lucu dengan harapan penumpang terhibur sehingga rela memberikan tip.
Pengamen rumah makan (restoran) warung kaki lima
Biasanya pengamen ini sudah ada kerjasama dengan pemilik warung, bermacam2 alat musik sebagai pengantar lagunya. pengamen ini ada yang sudah seperti group band, dengan alat musik gitar, kecrekan,sampai dengan drum yang dibuat sendiri. Biasanya pengamen ini mengikuti perkembangan lagu2 pop Indonesia, karena lagu2 baru tersebut yang dia bawakan.
Itulah pengelompokan pengamen dijakarta. Pada saat pengamen dilahirkan, tentunya keluarga dari pengamen tidak mengharapkan anaknya jadi pengamen, pengamen bukan cita2nya, tapi karena lapangan kerja yang sulit, kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin meningkat, mengamen adalah yang paling cepat dan lebih mudah mendapatkan uang untuk sekedar bisa makan, untuk bertahan hidup dan mengamen ini lebih baik dari pada mengemis.
tapi ada juga pengamen yang dikoordinir, biasanya ini pengamen untuk usia anak2,anak dibagi disetiap lampu merah.
Pengamen dalam bis damri bandara itu kreatif, dia sudah siap dengan layanannya request lagu dari penumpang, tentunya pengamen ini yang memang menghibur pendengar dengan harapan mendapatkan tip yang lebih besar.
Artikel ini dibuat pada saat naik Bis Damri Bandara dari Blok M, bis yang berangkat setiap jarum panjang jam di angka 6 dan 12 yaitu 30 menit sekali.
Friday, May 15, 2009
Berbicaralah dengan JELAS
Sebagai contoh pada waktu saya rapat dikantor, dalam rapat selalu banyak tanggapan dan perbedaan presepsi mengenai sebuah kalimat, tapi yang menarik adalah waktu salah satu direktur sambil memegang kacang dia berkata dengan cepat dan dengan mengabaikan tanda baca yaitu “dinamakankacang”, dengan kalimat tersebut perserta rapat mempunyai 2 presepsi yang berbeda, presepsi pertama yaitu “dinamakan kacang”, presepsi yang kedua “dina makan kacang”, padahal yang benar adalah “dina makan kacang”, karena kalimat selanjutnya adalah “karna lapar” jadi “dina makan kacang, karena lapar.
Hal ini juga terjadi pada kalimat yang menjadikan presepsi dari pendengar menjadi lucu.yaitu kalimat “ada kabar burung pak lurah sakit”, pada kalimat ini jika tidak dikatakan dengan jelas akan mempunyai 2 presepsi, presepsi pertama “ada kabar burung, pak lurah sakit”, presepsi kedua “ada kabar, burung pak lurah sakit”, hahaha tentunya burung cucakrawa kesayangannya.
Inilah kejelasan dalam berbicara sangat diperlukan agar tidak membuat presepsi pendengar berbeda. berbicaralah dengan JELAS...............
Kenapa Nothing to Lose ?
Dalam sinetron kiamat sudah dekat yang pertama (sinetronnya ya,bukan FTV nya) yang disutradarai oleh Deddy Mizwar, dan dimainkan oleh Andre Stinky dan Zaskia Adtya Mecca, sinetron ini menceritakan juga tentang Ilmu Ikhlas. Andre stinky yang sangat suka dengan Zaskia tidak disetujui oleh bapaknya (Deddy Mizwar), Andre akan disetujui oleh bapaknya asalkan memenuhi persyaratan yang salah satu persyaratannya adalah disuruh mempelajari Ilmu ikhlas, dari persyaratan itulah pesan ilmu ikhlas dalam sinetron ini banyak dicontohkan yang tentunya sangat positif.
Banyak ustadz seperti Aagym dan ustadz Yusuf Mansur mengatakan Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.
Ada pula yg berangangapan bahwa jika kita dalam mengerjakan segala sesuatu dengan senang hati dan ikhlas pasti hasilnya adalah kesuksesan.
Memang sangat luas arti dari sebuah kata Ikhlas.
Mungkin inilah hidayah yang diberi oleh Allah SWT agar menjalani hidup ini dengan Ikhlas. Pada akhirnya saya mengucapkan thanks god bahasa Inggrisnya, syukur bahasa Indonesianya dan alhamdulilllah bahasa Arabnya, karena Allah SWT memberikan pengetahuan kepada saya arti dari sbuah Ikhlas, so ikhlas-ikhlas aja deh……… Nothing To Lose....................
Monday, May 11, 2009
Jangan Pernah Besar Kepala
Cerita 1
PIN Jengkol Seorang Gubenur.
Ada pejabat gubernur pergi berangkat kerja pagi dengan istrinya dengan mengendarai mobil,diperjalan karna bensin sudah harus di isi dia mampir di SPBU untuk isi bensin, mampirlah dia ke SPBU dijalan, pada saat isi bensin istrinya bertemu dengan teman pria lamanya, dia ngobrol sambil tertawa2 dan sedikit mesra, sang suami diam aja sambil cemberut berpikir untuk cepat2 bensin nya penuh dan keluar dari SPBU tersebut, selesai isi bensin tersebut keluar dari SPBU si suami bertanya kepada istrinya, “siapa itu tadi kok ngobrol nya mesra begitu”, si istri jawab “itu mantan pacar saya dulu”, lalu suami nya bilang dengan sambil memegang PIN yg biasa dipake gubenur didadanya, “untung kamu nikah dengan saya, sehingga sekarang kamu jadi istri gubernur, coba kalo nikah dengan tukang bensin itu, kamu sudah jadi istri tukang bensin, si istri dengan sewotnya dia bilang “ enak aja kalo, sy jadi istri tukang bensin itu, skrg ini tukang bensin itu yg jadi gubenur naik mobil disamping saya, kamu yg jadi tukang bensin”.
Cerita 2
Kenapa Pesawat garuda itu tepat waktu :
Pesawat garuda bisa tepat waktu bukan lah semata-karna yg mengatur jadwal dengan baik tapi tentunya kita juga harus lihat bahwa pesawat garuda itu bisa tepat waktu dikarenakan pilot nya yg datang tepat waktu sampai kebandara, tentunya tidak akan bisa tepat waktu jika pilotnya juga tidak tepat waktu datang untuk membawa pesawat tersebut, tapi pilot tersebut juga tidak akan tepat waktu datang kebandara jika supir yang menjemput pilot tidak tepat waktu juga datang kerumah pilot tersebut. Dari sini tentunya masih harus kita ingat juga bahwa sipilot juga tidak akan tepat waktu jika tidak dibangunkan oleh istri dan mensiapkan keperluan untuk berangkat ke bandara.
manager ini yang tidak pernah merasa dia bisa menjadi manager karena diri dia sepenuhnya,tapi karena bawahan dan lingkungan sekitarnya yang membuat dia menjadi manager.