Ikhlas sepanjang jalan.... Hidup adalah perjalanan, yang ditaburi mimpi, diisi keberanian, dan dinyatakan dalam tindakan
Friday, May 10, 2013
Universitas Kehidupan
Universitas Kehidupan mata kuliahnya beragam: Memahami kegagalan berulang; Penghianatan seorang sahabat; Mengalahkan ego pribadi; Berpacu dengan waktu; Kekecewaan tak bertepi; Sayap-sayap mimpi yang patah; Tetap menginjak bumi; Mencintai pekerjaan yang menjemukan; Kesedihan yang menghujam menembus bahu; Tetap tersenyum didepan klien yang super nyebelin; Menyelesaikan tugas dalam kurun waktu yang mustahil; Sabar menghadapi pimpinan yang tidak rasional; Ditinggal oleh orang yang sangat kita sayangi; Merindukan kedamaian; Kebosanan tingkat dewa,…....... Kadang2 kita dapat juga extrakulikuler yang menyenangkan: Malaikat penolong yang datang saat terdesak; Rejeki muncrat tanpa diharap; Menemukan sahabat sejati; Melihat indahnya cinta diantara himpitan kehidupan; Keajaiban kecil senyummu; Menikmati teh pagi penuh damai,.......... Ketika satu mata kuliah selesai, datang lagi mata kuliah baru, yang sering tidak pernah kita duga sebelumnya. Dan kita semua tidak pernah lulus ataupun mendapat ijasah dari Kampus Kehidupan ini. Selamat kuliah
Thin Slicing, konsep dari buku kuno apik “Blink”, Malcolm Gladwell.
Konsep dari Malcolm gladwell ini menunjukkan bahwa kita mampu menganalisa sesuatu dengan sangat akurat berdasarkan potongan – potongan informasi kecil yang masuk ke otak kita. Misalnya pada seorang CEO yang berpengalaman selama 20 tahun, dengan berbicara selama 15 menit pada manager yang bertugas, dia bisa menilai apakah perusahaan itu berjalan dengan baik atau tidak. Atau pada saat anda memasuki sebuah toko, dalam 10 detik pertama anda sudah bisa menilai bahwa toko ini tidak laku dan terus merugi. Tapi bagi orang yang tidak mengerti, biarpun sudah menganalisa berhari – hari, tetap saja tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Yang terjadi adalah sebuah proses yang disebut thin slicing. Istilah lain bilang "Narrow Window". Seorang yang telah memiliki pengalaman cukup disuatu bidang, pada saat menerima input informasi yang berkaitan dengan bidangnya, walau sedikit, akan segera memilah informasi tersebut menjadi potongan – potongan tipis. Kemudian ia membandingkan potongan – potongan informasi ini untuk dibandingkan dengan database pengalamannya selama bertahun – tahun untuk menghasilkan analisa yang akurat mengenasi keadaan yang dihadapinya. Proses ini berlangsung dengan sangat cepat di dalam otak sehingga orang yang melihat tidak akan mengerti darimana ia memperoleh semua kesimpulan analisa tersebut.
Misalnya seorang pedagang barang antik. Saat melihat sebuah guci, dia akan segera mengenali barang itu merupakan barang asli atau bukan, berasal dari dinasti apa, dan berapa juta harga yang pantas untuk barang tersebut. Tapi bagi orang awam, dijelaskan berkali – kali sekalipun ia tetap tidak mengerti mengapa sebuah guci tua yang kusam dan hampir retak bisa dijual senilai 100 – 200 juta.
Bagi seseorang yang expert di bidangnya, akan mudah baginya untuk melakukan perhitungan – perhitungan berkaitan dengan bidang yang digelutinya tanpa perlu menggunakan computer atau kalkulator lagi. Hal ini bisa dilakuakn karena dia sudah memiliki banyak data tersimpan dalam otaknya dan saat menerima informasi, dia bisa membandingkan potongan – potongan informasi tersebut dengan database dalam otaknya untuk mengasilkan analisa dan perhitungan yang tepat. Tentu bukan analisa yang mendetail, tapi akan cukup untuk mendukung pngambilan keputusan.
Contoh-contoh lain dalam kehidupan kita: Seperti seorang mahasiswa dengan melihat 5 menit saja akan tahu dosen ini akan mengajar dengan enak atau tidak dalam satu semester. Seorang pedagang berpengalaman dua puluh tahun akan bisa menebak kira2 berapa boleh diberikan hutang pada pelanggan baru ini. Seorang manager HRD yang handal akan mampu melihat kebohongan2 halus yang dikatakan calon pegawai baru. Kesalahan bisa terjadi kalau kita justru terlalu konfiden sedangkan yang kita ambil adalah keputusan yang bukan merupakan keahlian kita yang benar2.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebetulnya kita memiliki kemampuan untuk menilai dan menganalisa dengan proses thin slicing ini, dan kemampuan ini cukup reliable untuk situasi – situasi mendesak. Tentu saja anda tetap harus melakukan analisa dan kalkulasi yang lebih detail dalam pengambilan keputusan penting. Tapi tidak ada salahnya memperhatikan serpihan intuisi yang muncul dari thin slicing ini meskipun mungkin data yang anda hadapi akan menunjukkan angka yang luar biasa bagus. Data dapat dimanipulasi dan dimainkan, tapi intusi yang terbentuk oleh pengalaman anda sendiri selama bertahun – tahun mungkin akan dapat menyelamatkan anda.
Yang terjadi adalah sebuah proses yang disebut thin slicing. Istilah lain bilang "Narrow Window". Seorang yang telah memiliki pengalaman cukup disuatu bidang, pada saat menerima input informasi yang berkaitan dengan bidangnya, walau sedikit, akan segera memilah informasi tersebut menjadi potongan – potongan tipis. Kemudian ia membandingkan potongan – potongan informasi ini untuk dibandingkan dengan database pengalamannya selama bertahun – tahun untuk menghasilkan analisa yang akurat mengenasi keadaan yang dihadapinya. Proses ini berlangsung dengan sangat cepat di dalam otak sehingga orang yang melihat tidak akan mengerti darimana ia memperoleh semua kesimpulan analisa tersebut.
Misalnya seorang pedagang barang antik. Saat melihat sebuah guci, dia akan segera mengenali barang itu merupakan barang asli atau bukan, berasal dari dinasti apa, dan berapa juta harga yang pantas untuk barang tersebut. Tapi bagi orang awam, dijelaskan berkali – kali sekalipun ia tetap tidak mengerti mengapa sebuah guci tua yang kusam dan hampir retak bisa dijual senilai 100 – 200 juta.
Bagi seseorang yang expert di bidangnya, akan mudah baginya untuk melakukan perhitungan – perhitungan berkaitan dengan bidang yang digelutinya tanpa perlu menggunakan computer atau kalkulator lagi. Hal ini bisa dilakuakn karena dia sudah memiliki banyak data tersimpan dalam otaknya dan saat menerima informasi, dia bisa membandingkan potongan – potongan informasi tersebut dengan database dalam otaknya untuk mengasilkan analisa dan perhitungan yang tepat. Tentu bukan analisa yang mendetail, tapi akan cukup untuk mendukung pngambilan keputusan.
Contoh-contoh lain dalam kehidupan kita: Seperti seorang mahasiswa dengan melihat 5 menit saja akan tahu dosen ini akan mengajar dengan enak atau tidak dalam satu semester. Seorang pedagang berpengalaman dua puluh tahun akan bisa menebak kira2 berapa boleh diberikan hutang pada pelanggan baru ini. Seorang manager HRD yang handal akan mampu melihat kebohongan2 halus yang dikatakan calon pegawai baru. Kesalahan bisa terjadi kalau kita justru terlalu konfiden sedangkan yang kita ambil adalah keputusan yang bukan merupakan keahlian kita yang benar2.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebetulnya kita memiliki kemampuan untuk menilai dan menganalisa dengan proses thin slicing ini, dan kemampuan ini cukup reliable untuk situasi – situasi mendesak. Tentu saja anda tetap harus melakukan analisa dan kalkulasi yang lebih detail dalam pengambilan keputusan penting. Tapi tidak ada salahnya memperhatikan serpihan intuisi yang muncul dari thin slicing ini meskipun mungkin data yang anda hadapi akan menunjukkan angka yang luar biasa bagus. Data dapat dimanipulasi dan dimainkan, tapi intusi yang terbentuk oleh pengalaman anda sendiri selama bertahun – tahun mungkin akan dapat menyelamatkan anda.
Kerja besar tidak pernah selesai jam 5 sore.
Jarum jam menunjukkan sore jam 4.35, dan sebentar lagi akan pulang. Anda menyelesaikan sedikit pekerjaan terakhir. Mengecek beberapa email, semua sudah terbalas. Perincian beaya bulan ini, sudah selesai. Surat untuk klien diluar kota, selesai print juga. Anda menghela napas lega, selesai sudah hari ini. Jam menunjukkan pukul 5.05, dan anda tersenyum lebar. Waktunya pulang. Selesai hari ini.
Mentalitas kerja kita, adalah menyelesaikan tugas, seperti ketika sekolah dulu, tenggo. Jam teng, kita semburat go, pulang. Istirahat, bobo, dolan. Besok kerja lagi. Kita seperti kebanyakan orang lain, bekerja sesuai tugas saja. Ya ini kerja, pokok selesai, tidak ada masalah, ya sudah. Inilah mentalitas kebanyakan orang, yang menghasilkan pendapatan seperti kebanyakan orang lain, dan menyeret kehidupan dengan berat seperti kebanyakan orang lain pula. Bukannya hal ini salah, hanya hal ini tidak membuat anda menjadi besar saja.
Lihatlah orang hebat disekeliling anda, lihatlah orang besar didunia luar sana, perhatikan prilaku mereka, antusiasme mereka, etos kerja mereka. Apakah mereka sama dengan kebanyakan orang? Teng-go? Bahkan mereka tidak punya teng, tidak punya jam kerja. Karena orang sukses adalah orang yang memaksakan jam nya, bukan orang yang tindakan2nya dibentuk oleh jam kerja, dan tugas.
Menjadi sukses bukan sekedar menyelesai tugas sehari hari anda, bukan sekedar menjawab email, dan melaksanakan perintah dan kewajiban rutin menjawab telpon saja. Karena jaman telah berubah, di pabrik2 itulah pekerjaan yang rutin harus diselesaikan. Tetapi di ekomomi baru ini, kita harus mau melakukan lebih dan berbeda untuk menjadi orang yang hebat. Dan tentu sekedar berteriak “Luar Biasa” tidak membuat kita tumbuh dahsyat.
Nah, sekarang, kalau bukan sekedar mengerjakan tugas dan pulang dan sekedar kerja, dan menerima gajih. Apa yang harus kita lakukan? Kita mulai memasuki arena baru yang sulit: Mencari pertanyaan, dan jawaban yang cocok untuk diri kita sendiri. Apa yang menjadi jalan sukses saya dimasa depan? Mulai dari mana? Kelebihan saya apa yang bisa saya eksploitasi supaya menjadi sukses? Siapa yang saya kenal yang bisa membantu saya? Sebenaranya apa yang benar2 menjadi mimpi saya? Apa yang sekarang harus saya kerjakan? Dan seribu pertanyaan lain, dan kita harus memilih pertanyaan yang tepat dan baik, dan mencari jawabnya.
Kalau anda bisa pada titik ini, belum tentu akan sukses, belum tentu akan jadi dahsyat, tetapi setidaknya sudah berbeda dengan orang2 lain yang sekedar menyelesaikan tugasnya, dan pulang, tidur, besok memulai lagi, menyeret diri, tubuh, dan nasibnya, seperti kebanyakan orang yang tidak punya keinginan apapun dalam menciptakan sukses masa depannya sendiri.
Mentalitas kerja kita, adalah menyelesaikan tugas, seperti ketika sekolah dulu, tenggo. Jam teng, kita semburat go, pulang. Istirahat, bobo, dolan. Besok kerja lagi. Kita seperti kebanyakan orang lain, bekerja sesuai tugas saja. Ya ini kerja, pokok selesai, tidak ada masalah, ya sudah. Inilah mentalitas kebanyakan orang, yang menghasilkan pendapatan seperti kebanyakan orang lain, dan menyeret kehidupan dengan berat seperti kebanyakan orang lain pula. Bukannya hal ini salah, hanya hal ini tidak membuat anda menjadi besar saja.
Lihatlah orang hebat disekeliling anda, lihatlah orang besar didunia luar sana, perhatikan prilaku mereka, antusiasme mereka, etos kerja mereka. Apakah mereka sama dengan kebanyakan orang? Teng-go? Bahkan mereka tidak punya teng, tidak punya jam kerja. Karena orang sukses adalah orang yang memaksakan jam nya, bukan orang yang tindakan2nya dibentuk oleh jam kerja, dan tugas.
Menjadi sukses bukan sekedar menyelesai tugas sehari hari anda, bukan sekedar menjawab email, dan melaksanakan perintah dan kewajiban rutin menjawab telpon saja. Karena jaman telah berubah, di pabrik2 itulah pekerjaan yang rutin harus diselesaikan. Tetapi di ekomomi baru ini, kita harus mau melakukan lebih dan berbeda untuk menjadi orang yang hebat. Dan tentu sekedar berteriak “Luar Biasa” tidak membuat kita tumbuh dahsyat.
Nah, sekarang, kalau bukan sekedar mengerjakan tugas dan pulang dan sekedar kerja, dan menerima gajih. Apa yang harus kita lakukan? Kita mulai memasuki arena baru yang sulit: Mencari pertanyaan, dan jawaban yang cocok untuk diri kita sendiri. Apa yang menjadi jalan sukses saya dimasa depan? Mulai dari mana? Kelebihan saya apa yang bisa saya eksploitasi supaya menjadi sukses? Siapa yang saya kenal yang bisa membantu saya? Sebenaranya apa yang benar2 menjadi mimpi saya? Apa yang sekarang harus saya kerjakan? Dan seribu pertanyaan lain, dan kita harus memilih pertanyaan yang tepat dan baik, dan mencari jawabnya.
Kalau anda bisa pada titik ini, belum tentu akan sukses, belum tentu akan jadi dahsyat, tetapi setidaknya sudah berbeda dengan orang2 lain yang sekedar menyelesaikan tugasnya, dan pulang, tidur, besok memulai lagi, menyeret diri, tubuh, dan nasibnya, seperti kebanyakan orang yang tidak punya keinginan apapun dalam menciptakan sukses masa depannya sendiri.
Managing Oneself ~Peter Drucker
Napleon, Da Vinci, Mozard, Steve jobs, Obama, atau siapapun yang hebat, dapat mencapai kesuksesannya karena mampu mengatur dirinya. Managing Oneself adalah tulisan almarhum Peter Drucker di Harvard Business Review March 1999 dan terpilih masuk dalam “10 must-read articles of HBR”, terbitan khusus On-Point HBR magazine. Saya ringkas sebagai berikut:
** What Are My Strength? ** Apa sebenarnya kelebihan saya dibanding orang lain? Peter Drucker berpendapat kita sering sekali salah dalam menganalisa diri kita sendiri. Satu2nya cara yang benar adalah saat kita mengambil keputusan melakukan sesuatu yang besar, kita catat apa harapan hasil dari tindakan itu, dan membandingkannya dengan kejadian yang sebenarnya. Dengan demikian secara berturut turut dalam 2 atau 3 tahun, kita akan benar2 tahu dimana kelebihan kita; kekuatan kita yang sebenarnya. Peter Drucker sendiri mengatakan dia saja sering salah dalam menganalisa dirinya sendiri, dan hanya “feedback analysis” saja yang mampu menjadi bukti yang tepat.
Konsentrasikan diri anda pada kekuatan anda, lebih pertajam kelebihan anda, dan berhati hatilah dalam mengambil keputusan atau tindakan pada keputusan2 dimana anda kurang mampu. Skill set apa yang terbaik yang ada pada diri anda? Kemampuan teknis, persuasi, mengatur anak buah, mempengaruhi orang, negosiasi, networking; cocokkan kemampuan anda dengan hasil yang dicapai ketika anda melakukan hal tersebut.
**How Do I work?** Bagaimana cara saya bekerja yang paling efektip? Anda lebih mudah belajar dari membaca, mendengar, atau mencontoh orang lain melakukan sesuatu? Tiap orang berbeda dalam keadaan lingkungan yang berbeda, kita harus memaksimalkan lingkungan kita menunjang pencapaian terbaik yang cocok dengan cara kerja kita. Ada yang mudah bekerja sendiri, ada yang lebih nyaman bekerja kelompok. Ada yang mejanya kacau dan suka bekerja larut malam, ada yang harus pada jam kerja dan duduk rapi dikantor. Stress membuat sebagian orang berhenti bekerja, sementara orang lain malah lebih tertantang. Setiap orang berbeda.
**What Are My Values?** Nilai2 apa yang saya anut? Etika hanyalah sebagian dari Values. Values adalah hal2 yang saya anggap penting dalam kehidupan kita. Semua orang semua perusahaan menginginkan profit, tapi ada seribu jalan menuju profit, dan bagaimana kita melakukan pekerjaan selalu didasari oleh nilai2 yang kita anggap penting. Peter Drucker pada saat muda berhasil menjadi pialang saham sukses di London, tapi dia tidak menemukan kebahagiaan dalam pekerjaannya, dia tidak ingin menjadi orang terkaya di kuburannya. Maka dengan segala keberanian dia pindah kerja dan memulai dari awal lagi.
Samakah Nilai2 yang anda anut dengan kelompok kerja anda, samakah dengan Nilai2 yang dianut perusahaan anda? Kwalitas, service, pembelajaran tanpa habisnya, bisnis yang sukses, fokus pada klien, design, tepat waktu, produk, teknologi maju, mewah, irit, atau apa yang menjadi nilai2 penting anda; harus ada “pilihan”, tidak bisa mau semuanya. Selaraskan 3-5 value terpenting anda dengan value perusahaan anda, dan itu jadi kunci pilihan tindakan.
**Where do I Belong?** Berdasarkan kekuatan dan kelebihan kita, dan memahami cara kerja terbaik kita, serta dengan menjunjung nilai2 yang kita anut, maka sebenarnya dimanakah seharusnya saya berada? Ketepatan keempat hal diatas akan membuat kita berubah dari pekerja yang biasa menjadi perkerja yang luar biasa. Kebanyakan orang tidak jelas akan hal ini, dan terus mencari yang tercocok untuknya. Selalu pertanyakan kembali hal2 diatas, dan lihat serta sesuaikan dengan tempat kerja yang anda idamkan.
**What can I Contribute?** Apa yang dapat saya sumbangkan? Dijaman dulu, kita diharuskan mengerjakan pekerjaan kasar yang jelas hanya memperdayakan otot kita untuk menyelesaikannya. Tetapi sekarang dengan lebarnya tugas dan luasnya lingkup pekerjaan seorang profesional, maka kita mempunyai “kebebasan” untuk memilih titik fokus2 apa yang akan kita lakukan. Berikan hasil terbesar yang dapat kita berikan kepada perusahaan, masyarakat, atau pun diri kita sendiri.
Rahasia efektivitas kerja adalah pemahaman atas diri kita dan pemahaman atas orang lain yang bekerja bersama kita. Dengan memfokuskan pada kekuatan masing2 maka sukses akan lebih mudah diraih. Tentu, semua itu bukan hanya untuk dijabarkan saja, tapi benar2 dilakukan dalam tindakan2 nyata yang berkelanjutan. Salam Sukses Selalu untuk semua.
** What Are My Strength? ** Apa sebenarnya kelebihan saya dibanding orang lain? Peter Drucker berpendapat kita sering sekali salah dalam menganalisa diri kita sendiri. Satu2nya cara yang benar adalah saat kita mengambil keputusan melakukan sesuatu yang besar, kita catat apa harapan hasil dari tindakan itu, dan membandingkannya dengan kejadian yang sebenarnya. Dengan demikian secara berturut turut dalam 2 atau 3 tahun, kita akan benar2 tahu dimana kelebihan kita; kekuatan kita yang sebenarnya. Peter Drucker sendiri mengatakan dia saja sering salah dalam menganalisa dirinya sendiri, dan hanya “feedback analysis” saja yang mampu menjadi bukti yang tepat.
Konsentrasikan diri anda pada kekuatan anda, lebih pertajam kelebihan anda, dan berhati hatilah dalam mengambil keputusan atau tindakan pada keputusan2 dimana anda kurang mampu. Skill set apa yang terbaik yang ada pada diri anda? Kemampuan teknis, persuasi, mengatur anak buah, mempengaruhi orang, negosiasi, networking; cocokkan kemampuan anda dengan hasil yang dicapai ketika anda melakukan hal tersebut.
**How Do I work?** Bagaimana cara saya bekerja yang paling efektip? Anda lebih mudah belajar dari membaca, mendengar, atau mencontoh orang lain melakukan sesuatu? Tiap orang berbeda dalam keadaan lingkungan yang berbeda, kita harus memaksimalkan lingkungan kita menunjang pencapaian terbaik yang cocok dengan cara kerja kita. Ada yang mudah bekerja sendiri, ada yang lebih nyaman bekerja kelompok. Ada yang mejanya kacau dan suka bekerja larut malam, ada yang harus pada jam kerja dan duduk rapi dikantor. Stress membuat sebagian orang berhenti bekerja, sementara orang lain malah lebih tertantang. Setiap orang berbeda.
**What Are My Values?** Nilai2 apa yang saya anut? Etika hanyalah sebagian dari Values. Values adalah hal2 yang saya anggap penting dalam kehidupan kita. Semua orang semua perusahaan menginginkan profit, tapi ada seribu jalan menuju profit, dan bagaimana kita melakukan pekerjaan selalu didasari oleh nilai2 yang kita anggap penting. Peter Drucker pada saat muda berhasil menjadi pialang saham sukses di London, tapi dia tidak menemukan kebahagiaan dalam pekerjaannya, dia tidak ingin menjadi orang terkaya di kuburannya. Maka dengan segala keberanian dia pindah kerja dan memulai dari awal lagi.
Samakah Nilai2 yang anda anut dengan kelompok kerja anda, samakah dengan Nilai2 yang dianut perusahaan anda? Kwalitas, service, pembelajaran tanpa habisnya, bisnis yang sukses, fokus pada klien, design, tepat waktu, produk, teknologi maju, mewah, irit, atau apa yang menjadi nilai2 penting anda; harus ada “pilihan”, tidak bisa mau semuanya. Selaraskan 3-5 value terpenting anda dengan value perusahaan anda, dan itu jadi kunci pilihan tindakan.
**Where do I Belong?** Berdasarkan kekuatan dan kelebihan kita, dan memahami cara kerja terbaik kita, serta dengan menjunjung nilai2 yang kita anut, maka sebenarnya dimanakah seharusnya saya berada? Ketepatan keempat hal diatas akan membuat kita berubah dari pekerja yang biasa menjadi perkerja yang luar biasa. Kebanyakan orang tidak jelas akan hal ini, dan terus mencari yang tercocok untuknya. Selalu pertanyakan kembali hal2 diatas, dan lihat serta sesuaikan dengan tempat kerja yang anda idamkan.
**What can I Contribute?** Apa yang dapat saya sumbangkan? Dijaman dulu, kita diharuskan mengerjakan pekerjaan kasar yang jelas hanya memperdayakan otot kita untuk menyelesaikannya. Tetapi sekarang dengan lebarnya tugas dan luasnya lingkup pekerjaan seorang profesional, maka kita mempunyai “kebebasan” untuk memilih titik fokus2 apa yang akan kita lakukan. Berikan hasil terbesar yang dapat kita berikan kepada perusahaan, masyarakat, atau pun diri kita sendiri.
Rahasia efektivitas kerja adalah pemahaman atas diri kita dan pemahaman atas orang lain yang bekerja bersama kita. Dengan memfokuskan pada kekuatan masing2 maka sukses akan lebih mudah diraih. Tentu, semua itu bukan hanya untuk dijabarkan saja, tapi benar2 dilakukan dalam tindakan2 nyata yang berkelanjutan. Salam Sukses Selalu untuk semua.
Kesempatan sukses anda tidak ditentukan oleh dimana anda kuliah
Secara umum data memang memberikan bukti bahwa mahasiswa jebolan kampus2 terkemuka di Amerika secara rata2 mendapat kerja dan sukses yang lebih baik dari pada yang berkuliah di kampus2 dengan kwalitas atau ranking yang lebih rendah.
Tetapi ada sebuah riset yang menarik dilakukan di Amerika. Dikumpulkan data dari orang2 yang mendaftar dan diterima di kampus2 terbaik Amerika, tetapi karena sesuatu dan lain hal, mahasiswa2 ini tidak jadi masuk ke kampus2 itu, tetapi masuk pada kampus2 dengan ranking jauh lebih rendah.
Data ini dikumpulkan dan dilacak perjalanan kesuksesan mahasiswa2 ini sampai 20 tahun kedepan, ternyata terbukti bahwa mahasiswa2 yang diterima (tetapi tidak masuk) ke universitas terkemuka ini, secara rata2 mempunyai sukses yang sama dengan yang benar2 kuliah di kampus2 terkemuka itu.
Hal ini menimbulkan pemikiran dan pertanyaan apakah benar kampus2 hebat itu mampu mendidik mahasiswa dengan lebih baik, ataukah sebenarnya karena memang yang diterima disana sebenarnya sudah punya kwalitas prima, dan diterima disana kuliah disana, ataupun kuliah ditempat lain yang rankingnya jauh lebih rendah, hasilnya secara kesuksesan, akan sama saja.
Ada pemikiran lain lagi: Kesuksesan kita tidak ditentukan oleh dimana kita kuliah, tetapi tergantung dari diri kita sendiri. Warren Buffet, orang terkaya didunia, wizard dunia investment, ternyata di tolak oleh Harvard. Steven Spielberg, director tersukses dalam dunia perfileman, ditolak oleh UCLA dan USC.
Orang2 sukses juga sering tidak kompromistis, dan menjadi drop out, karena merasa kuliah justru mengganggu perjalanan sukses mereka. Seperti Steve Jobs, Steven Spielberg, Bil Gates, Michael Dell dan sejumlah daftar panjang lainnya.
Sukses sangat tidak tergantung dimana anda kuliah, lulus atau tidak, dapat nilai yang bagaimana. Sukses ditentukan oleh perjalanan setiap individu itu sendiri. Kegigihannya berjuang, kemauan untuk selalu belajar dan menjadi lebih baik, kesempatan yang ada, jam terbang yang cukup, dan kecintaan serta obsesi yang luar biasa pada apa yang dilakukannya.
Tetapi ada sebuah riset yang menarik dilakukan di Amerika. Dikumpulkan data dari orang2 yang mendaftar dan diterima di kampus2 terbaik Amerika, tetapi karena sesuatu dan lain hal, mahasiswa2 ini tidak jadi masuk ke kampus2 itu, tetapi masuk pada kampus2 dengan ranking jauh lebih rendah.
Data ini dikumpulkan dan dilacak perjalanan kesuksesan mahasiswa2 ini sampai 20 tahun kedepan, ternyata terbukti bahwa mahasiswa2 yang diterima (tetapi tidak masuk) ke universitas terkemuka ini, secara rata2 mempunyai sukses yang sama dengan yang benar2 kuliah di kampus2 terkemuka itu.
Hal ini menimbulkan pemikiran dan pertanyaan apakah benar kampus2 hebat itu mampu mendidik mahasiswa dengan lebih baik, ataukah sebenarnya karena memang yang diterima disana sebenarnya sudah punya kwalitas prima, dan diterima disana kuliah disana, ataupun kuliah ditempat lain yang rankingnya jauh lebih rendah, hasilnya secara kesuksesan, akan sama saja.
Ada pemikiran lain lagi: Kesuksesan kita tidak ditentukan oleh dimana kita kuliah, tetapi tergantung dari diri kita sendiri. Warren Buffet, orang terkaya didunia, wizard dunia investment, ternyata di tolak oleh Harvard. Steven Spielberg, director tersukses dalam dunia perfileman, ditolak oleh UCLA dan USC.
Orang2 sukses juga sering tidak kompromistis, dan menjadi drop out, karena merasa kuliah justru mengganggu perjalanan sukses mereka. Seperti Steve Jobs, Steven Spielberg, Bil Gates, Michael Dell dan sejumlah daftar panjang lainnya.
Sukses sangat tidak tergantung dimana anda kuliah, lulus atau tidak, dapat nilai yang bagaimana. Sukses ditentukan oleh perjalanan setiap individu itu sendiri. Kegigihannya berjuang, kemauan untuk selalu belajar dan menjadi lebih baik, kesempatan yang ada, jam terbang yang cukup, dan kecintaan serta obsesi yang luar biasa pada apa yang dilakukannya.
Choose to choose.
***** Setiap istirahat makan siang, Amir akan membuka kotak makanannya dengan pelahan sambil komplain: "Jangan nasi tahu tempe lagi ya...", ketika terbuka kotaknya, berteriak: "Sialan, Nasi tahu tempe lagi!" Teman kerjanya tidak tahan melihat Amir setiap hari komplain, berkata:" Mir, kalau bosan dengan Nasi tahu tempe, ya bilang sama istrimu, jangan bawakan nasi tahu tempe lagi!" Amir menjawab: " Mas, sejujurnya saya belum menikah, dan tadi pagi yang mengotaki nasi tahu tempe ini ya saya sendiri." *****
Cerita sumir ini menarik, saya sadur dari anekdot di buku nya Tal Ben Shahar, dosen legendaris Harvard University, "Choose The Life You Want". Kita komplain dengan hidup kita, tidak nyaman, tidak enak, pekerjaan kurang menantang, "stuck", tidak ada kemajuan, sama saja pekerjaan yang dilakukan membosankan sekali, dan seterusnya. Sebenarnya yang mengotaki apa yang kita kerjakan ini ya kita sendiri.
Hampir semua hasil kehidupan kita sebenarnya adalah pilihan kita sendiri, dan kita sangat mempunyai hak dan kemampuan untuk memilihnya. Tetapi kebanyakan dari kita hanya mau komplain saja, walau tahu sebenarnya kita bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan kita ini. Kita mengeluh dan berkeluh kesah dengan banyak energi, tanpa akan memperbaiki sesuatu apapun.
Kita sering terlalu banyak jalan dengan "autopilot", melakukan tanpa mau memikir lebih dalam, ya seperti yang lalu lah, ya mengalir sajalah, ya ini suratan takdir lah, ya memang begini keadaannya, dan kita tidak mau lebih banyak berupaya untuk membentuk sendiri masa depan kita menuju hidup yang lebih baik. Dengan melakukan tindakan2 perubahan.
Memilih untuk memilih, "choose to choose", adalah sebuah kebulatan tekad, untuk tidak lagi mau menerima semua apa adanya saja, tetapi memilih untuk melakukan sesuatu yang dapat kita pilih untuk menghasilkan hasil kehidupan yang berbeda. Tidak pula menyalahkan dan memakai alasan kambing2 hitam untuk membenarkan keengganan kita melakukan pilihan tindakan.
Ada saatnya kita merasa terperangkap, masuk dalam jepitan kehidupan, coba tanyakan hal2 sulit yang mungkin akan berguna: "Apa yang harus saya lakukan dalam kehidupan saya supaya saya bisa mendapatkan kehidupan yang saya inginkan? Kemana saya akan pergi? Bagaimana saya bisa sampai disana? Apa resikonya? Siaplah saya? Habiskan waktu sehari mencoret2 dan mencatat semua pilihan yang ada. Jangan mau menerima jawaban "Saya tidak punya pilihan", karena memang sebenarnya anda punya hak untuk memilih, dan punya pilihan.
Monday, March 4, 2013
Perampok waktu.
Perampok waktu.
Waktu adalah sebuah keadilan sejati, siapaun anda hanya punya 24 jam sehari. Sebuah riset menunjukkan bahwa tanpa kita sadari sebenarnya banyak hal telah mencuri, bahkan merampok, waktu kita.
Perampok waktu ini bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa saja datangnya dari bos yang tidak terorganisir. Bisa dari kehidupan kita yang tidak teratur. Atau dari sikap yang jelek. Juga kemampuan kita yang kurang untuk mendelegasikan pekerjaan, atau jelasnya perintah yang kita berikan. Perampok waktu utama ada 5:
1. Interupsi.
Interupsi sering menghentikan atau mengalihkan pekerjaan kita. Ketika kita sedang bekerja dengan tenang, saat berpikir sesuatu tiba-tiba ada gangguan. Gangguan itu bisa telpon, sms, BBM, email, chating atau apapun. Interupsi ini salah satu yang menghabiskan waktu kita dengan tidak benar, sering tanpa kita sadari. Meng-silent-kan telpon dan hp, dan hanya membalas BBM atau SMS atau email pada waktu yang telah direncanakan akan menyembuhkan ini.
2. Penundaan.
Saat kita mau mengerjakan, tiba-tiba kita berpikir untuk menundanya. "Ah, nanti saja dikerjakannya. Sekarang masih sibuk dengan ini. Nanti dulu, nanti dulu," dan tertundalah pekerjaan kita. Penundaan ini ternyata menghabiskan banyak waktu kita tanpa membawa hasil. Penundaan ini sering kita lakukan dengan mengerjakan hal lain yang sebenarnya tidak penting. Tetaplah pada jalur rencana waktu anda.
3. Perubahan prioritas.
Awalnya kita kerjakan sesuatu, setelah setengah jalan, tiba-tiba ada hal yang mendesak. Kita pindah melakukan pekerjaan yang mendesak itu. Jadi belum selesai, kita sudah pindah ke pekerjaan lain. Ini biasa dilakukan oleh orang yang menerapkan manajemen krisis. Yakni orang yang mengerjakan berdasar pada hal yang mendesak, padahal belum tentu penting. Setelah krisis selesai, mengerjakan krisis yang lain. Bahkan mungkin krisis yang pertama belum selesai, sudah meloncat ke krisis lain. Melompat dari krisis ke krisis. Selesaikan yang penting, satu2, otak kita tidak bisa multitasking dengan baik.
4. Perencaan yang buruk.
Rencanakan hari anda, dan ikuti rencana itu. Perencanaan penting karena ketika kita sudah berjalan, kita tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan prioritas kita. Rencanakan malam sebelumnya, atau pagi hari. 15 menit yangs angat berguna, pilah2 lah: mana yang penting, dan mana yang harus didahulukan, mana yang boleh ditunda, atau didelegasikan.
Memang sulit bekerja dengan perencanaan. Kita inginnya mengerjakan apa yang kita inginkan. Sesuai dengan mood kita, berguna atau tidak. Tentukan saja 3 hal penting yang harus diselesaikan hari itu. Tiga hal itu saja. Yang lain boleh dikerjakan atau tidak, asal 3 hal ini selesai dulu. Fokus akan membawa sukses.
5. Penantian jawaban.
Penantian jawaban menunda pekerjaan kita. Misal: kita mau pergi ke suatu tempat dan mengajak seseorang. Namun dia tidak memberi jawaban ya atau tidak, namun menunda jawaban. Jadinya kita tidak jadi pergi selama belum ada jawaban dari dia. Di sini seharusnya kita bisa memutuskan apakah harus menunggu atau tidak.
Kelima hal itulah yang merampok waktu kita secara tidak sadar. Dalam hal ini seharusnya kita bisa membedakan mana yang penting, mana yang tidak. Mana yang mendesak, tergesa-gesa atau mana yang bisa ditunda. Sering sesuatu yang mendesak adalah tidak penting. Demikian sebaliknya, sesuatu yang penting padahal sepertinya tidak mendesak. Kerjakan yang penting, mendesak atau tidak. Dengan memahami ini kita bisa lebih efektif memanfaatkan waktu dengan lebih baik untuk bisnis kita.
*Quote from Tanadi Santoso 3/3/2013
Waktu adalah sebuah keadilan sejati, siapaun anda hanya punya 24 jam sehari. Sebuah riset menunjukkan bahwa tanpa kita sadari sebenarnya banyak hal telah mencuri, bahkan merampok, waktu kita.
Perampok waktu ini bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa saja datangnya dari bos yang tidak terorganisir. Bisa dari kehidupan kita yang tidak teratur. Atau dari sikap yang jelek. Juga kemampuan kita yang kurang untuk mendelegasikan pekerjaan, atau jelasnya perintah yang kita berikan. Perampok waktu utama ada 5:
1. Interupsi.
Interupsi sering menghentikan atau mengalihkan pekerjaan kita. Ketika kita sedang bekerja dengan tenang, saat berpikir sesuatu tiba-tiba ada gangguan. Gangguan itu bisa telpon, sms, BBM, email, chating atau apapun. Interupsi ini salah satu yang menghabiskan waktu kita dengan tidak benar, sering tanpa kita sadari. Meng-silent-kan telpon dan hp, dan hanya membalas BBM atau SMS atau email pada waktu yang telah direncanakan akan menyembuhkan ini.
2. Penundaan.
Saat kita mau mengerjakan, tiba-tiba kita berpikir untuk menundanya. "Ah, nanti saja dikerjakannya. Sekarang masih sibuk dengan ini. Nanti dulu, nanti dulu," dan tertundalah pekerjaan kita. Penundaan ini ternyata menghabiskan banyak waktu kita tanpa membawa hasil. Penundaan ini sering kita lakukan dengan mengerjakan hal lain yang sebenarnya tidak penting. Tetaplah pada jalur rencana waktu anda.
3. Perubahan prioritas.
Awalnya kita kerjakan sesuatu, setelah setengah jalan, tiba-tiba ada hal yang mendesak. Kita pindah melakukan pekerjaan yang mendesak itu. Jadi belum selesai, kita sudah pindah ke pekerjaan lain. Ini biasa dilakukan oleh orang yang menerapkan manajemen krisis. Yakni orang yang mengerjakan berdasar pada hal yang mendesak, padahal belum tentu penting. Setelah krisis selesai, mengerjakan krisis yang lain. Bahkan mungkin krisis yang pertama belum selesai, sudah meloncat ke krisis lain. Melompat dari krisis ke krisis. Selesaikan yang penting, satu2, otak kita tidak bisa multitasking dengan baik.
4. Perencaan yang buruk.
Rencanakan hari anda, dan ikuti rencana itu. Perencanaan penting karena ketika kita sudah berjalan, kita tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan prioritas kita. Rencanakan malam sebelumnya, atau pagi hari. 15 menit yangs angat berguna, pilah2 lah: mana yang penting, dan mana yang harus didahulukan, mana yang boleh ditunda, atau didelegasikan.
Memang sulit bekerja dengan perencanaan. Kita inginnya mengerjakan apa yang kita inginkan. Sesuai dengan mood kita, berguna atau tidak. Tentukan saja 3 hal penting yang harus diselesaikan hari itu. Tiga hal itu saja. Yang lain boleh dikerjakan atau tidak, asal 3 hal ini selesai dulu. Fokus akan membawa sukses.
5. Penantian jawaban.
Penantian jawaban menunda pekerjaan kita. Misal: kita mau pergi ke suatu tempat dan mengajak seseorang. Namun dia tidak memberi jawaban ya atau tidak, namun menunda jawaban. Jadinya kita tidak jadi pergi selama belum ada jawaban dari dia. Di sini seharusnya kita bisa memutuskan apakah harus menunggu atau tidak.
Kelima hal itulah yang merampok waktu kita secara tidak sadar. Dalam hal ini seharusnya kita bisa membedakan mana yang penting, mana yang tidak. Mana yang mendesak, tergesa-gesa atau mana yang bisa ditunda. Sering sesuatu yang mendesak adalah tidak penting. Demikian sebaliknya, sesuatu yang penting padahal sepertinya tidak mendesak. Kerjakan yang penting, mendesak atau tidak. Dengan memahami ini kita bisa lebih efektif memanfaatkan waktu dengan lebih baik untuk bisnis kita.
*Quote from Tanadi Santoso 3/3/2013
Subscribe to:
Comments (Atom)